Sepenggal Kisah

Dance With My Father Again

Posted by: Laila on: November 18, 2008

Aku menahan air mata yang sudah mulai menggenang, jangan sampai tumpah. Tidak, semestinya tumpah saja, tapi aku tak ingin dia melihatku menangis. Aku ingin dia melihatku bahagia. Tentu saja, air mata ini merepresentasikan kebahagiaan, tapi juga kehilangan.

Dia yang begitu muncul di hadapanku membuatku menangis haru, yang membuat aku tak henti-henti mengucap syukur. Si lincah ini yang membuatku dan kekasihku kewalahan mengejarnya kesana kemari. Gadis periang ini yang celotehannya membuat kepalaku pening tapi juga membuatku terbahak-bahak.

Aku jadi ingat, ketika dia tumbuh remaja. Dengan segala pemberontakannya, pemikirannya yang membuatku terperangah. Tapi harus kusembunyikan kekagetanku, kegalauanku, karena aku tau dia akan menemukan jalan pencerahannya sendiri. Aku jadi ingat, kala dia memelukku erat saat membaca pengumuman kelulusan di sebuah perguruan tinggi negeri.

Saat itu pun aku menangis. Seperti sekarang.

“Silahkan Bang, Abang duluan yang peusijuk Dina,” kekasihku menyentuh lenganku pelan.

Perlahan aku maju, lekat kutatap kedua bola mata yang hitam bening itu. Aku mengambil daun-daun yang sudah disediakan, kucelupkan ke dalam air, kupercikkan di sekeliling tubuhnya dan kekasihnya. Kulempar segenggam beras, dan kusuapi mereka berdua dengan ketan kuning serta kelapa. Lalu kucium kepalanya.

“Ayah sayang kamu, Nak.”

“Dina juga sayang sama Ayah, Ayah nggak akan kehilangan Dina. Dina sayang Ayah.”

Lama kucium kepalanya, dan tumpahlah sudah. Air mataku tak bias kutahan lagi, tumpah ke atas kepala anak gadisku.

“Lagu ini saya persembahkan untuk Ayah tercinta. Meski akhir-akhir ini kami jarang ngobrol karena Ayah cemburu anak gadisnya akan dibawa orang,”

Tamu undangan tertawa pelan mendengar kata-kata Dina.

“Tapi saya akan tetap menyayangi Ayah saya, sampai kapanpun.”

Pelan mengalun, dengan suaranya yang selalu merdu, anak gadisku bernyanyi lagu favoritnya, lagu yang selalu ia nyanyikan kalau kami berkaraoke bersama.

Dance with my father again

Dan di tengah-tengah lagu, dia mendatangiku, lalu memelukku erat.

“Dina sayang Ayah…, sayang sekali. Ayah adalah ayah terhebat di dunia.”

Ah…air mataku tumpah lagi…untuk gadis kecilku.

Kalau Jodoh Nggak Kemana -part 12-

Posted by: Laila on: October 13, 2008

12

Hanan

Mira, Mira!! Semalam aku benar-benar mimpi Mira, dong!! Sumpah mati aku nggak berniat mimpi Mira. Aku nggak pake berdoa segala kok. Aku langsung tidur setelah shalat Isya, setelah entah kenapa aku berdoa lebih lama dari biasanya supaya hatiku jauh lebih tenang. Nggak terlalu mikirin soal Mira, teringat-ingat tulisannya itu.

Eh, malah mimpi orang yang nggak pengen diingat-ingat!

Mimpinya aneh banget lagi. Gimana nggak aneh kalau sampai aku bangun, mandi, makan pagi, bahkan mengemudikan mobil ke kantor pun aku masih teringat rasa pelukannya Mira?!! Aku masih bisa merasakan bagaimana Mira mengelus kepalaku, mengecup puncak kepalaku, dan membawa kepalaku untuk bersandar di perutnya?? Gimana nggak aneh?!

Untung aku nggak nabrak mobil atau terserempet bus kota.

Karena rasanya begitu nyata, seolah-olah Mira emang semalam ada di kamarku dan melakukan hal itu. Tapi nggak mungkin ah, kamarku kan selalu kukunci. Kalaupun ada orang yang masuk ke kamarku, kalau nggak maling ya…

Aku sudah pernah bilang kan kalau aku nggak percaya kuntilanak!!

“Pak, kok ngelamun terus dari tadi?” tanya Mang Dadang yang mengantarkan cangkir kopi kedua ke ruanganku. Aku butuh kafein kadar tinggi untuk mengembalikan kewarasanku. Tepat saat aku sampai di kantor, tiba-tiba Mira meneleponku, padahal selama ini dia lebih memilih jalur komunikasi lewat sms. Menjawab teleponnya saja aku sudah ketar-ketir, apalagi kalau bertemu?! Gila!! Padahal Mira menelepon hanya untuk mengingatkanku untuk pergi ke Bogor karena kantor cabang yang disana harus diinspeksi lebih sering. Maklum, baru dibuka dua minggu yang lalu sih.

Padahal dia cuma bilang, “Nan, jangan lupa ke Bogor. Inspeksi kantor. Gw nggak bisa sms, nggak tau kenapa.”

Cuma bilang gitu doang!!

Aku udah panas dingin nggak karuan. Dan mendadak mimpi yang kualami semalam seperti dimainkan ulang di kepalaku, hanya saja kali ini jauh jauhhh lebih jelas. Mira dengan gaun putihnya, aku yang bersandar di perutnya.

Cuci kepala sekarang juga!!!

Samira

Ugh…tuh kan!! Ponselnya butut sih, apa providernya yang ngaco ya?? Jadi aja aku harus nelepon Hanan, ngingetin si pelupa itu untuk pergi ke Bogor. Jadi aja aku harus ngedenger suaranya! Nggak cukup apa suaranya, wajahnya, tubuhnya menghantui mimpi-mimpiku setiap malam?! Nggak cukup apa semua itu??

Aku bener-bener nggak tahan kalau harus menjalani semua ini lebih lama lagi.

Sakit…

Hanan

Bogor lagi. Pohon di seberang danau buatan lagi. Tempat aku biasa duduk, tempat aku curhat sama Mira waktu itu.

Mira…

Apa sih yang menyebabkan aku jadi ikut-ikutan mimpi tentang Mira? Terbawa ketakutannya yang selalu mimpiin aku? Seharusnya aku bangga ada perempuan yang mimpiin aku, berarti aku emang ganteng!

Duhh ngaco ngaco!!

Tapi kenapa aku mimpi Mira? We’re talking about Samira Hasan! Yang lebih sering jadi objek siksa deritaku, yang selalu kujajah lahir dan batin. Karma karena aku selalu menjajahnya? Nggak ah! Nggak mungkin. Aku kan menjajahnya nggak pake jijik dan bersumpah nggak akan pernah suka sama dia selamanya. Aku emang beneran iseng kok.

Kenapa aku mimpi Mira?!!

Kenapa semua orang kayaknya pengen banget aku nikah sama Mira?

Bahkan nggak disangka-sangka, Ibu tadi mengusulkan nama Mira saat makan pagi.

Iya sih, Ibu emang selalu simpati sama Mira, soalnya Mira kan selalu ngadu sama Ibu kalau aku menjajah dia.

Kenapa harus Mira?

Aku nggak peduli selelah apa aku, tapi aku harus menumpahkan semua kegundahanku ini pada seseorang. Dan Bima adalah orang yang paling tepat untuk kumuntahi dengan sepenuh hati, jiwa, tapi nggak raga. Kasian dong kalau dia terkena limpahan isi perutku. Lagian aku belum makan dari tadi siang.

Bagaimana bisa makan kalau terus-terusan teringat Mira?!

“Kenapa sih lu pucet gitu? Udah makan belum?” tanya Bima khawatir. Aku menggeleng, nggak bisa ngomong lagi. Soalnya bener-bener lapar.

“Tunggu disini, gw bawain apa yang bisa gw bawa dari dapur.”

Mudah-mudahan bukan bangkai tikus atau kecoa.

Nggak lama kemudian Bima kembali dengan nasi sepiring penuh dan ikan kembung yang dibalado, sayur tumis kangkung dan emping. Di tangan kirinya dia memegang segelas teh hangat. Duh, baik sekali dia.

“Makan dulu, baru ceritain kenapa lu kesini pucet-pucet gitu.”

Selama dua puluh menit aku makan dengan lahap, tanpa suara. Nggak ngomong apa-apa. Sampai akhirnya aku menghabiskan tetes terakhir teh hangat yang tadi dibikinkan Bima, lalu menghela napas sejenak, barulah Bima bertanya padaku.

“Nan, lu kenapa?”

“Gw bingung,” jawabku singkat.

“Bingung kenapa?”

Nah, kalau pertanyaannya begini aku jadi susah menjawabnya. Masa mesti bilang aku bingung karena sahabatnya? Karena Mira seenaknya saja masuk-masuk ke dalam mimpiku? Karena Mira bisa bikin aku nggak makan siang? Karena Mira bisa bikin aku nggak bisa konsentrasi ngapa-ngapain?!!

“Mira ya?” tanya Bima yang langsung membuatku sesak napas dan langsung keselek ludah sendiri. Reaksiku yang kampungan ini langsung membuat Bima menyunggingkan senyum. Sialan! Segini mudahnya orang tahu apa yang terjadi padaku?? Sebut saja nama seseorang, aku langsung keselek!

“Kan udah dibilangin, nggak ada yang protes kalau lu naksir sama Mira.”

Bukan masalah siapa yang protes, siapa yang nggak, cuy!! Ini masalah, gile aje gw naksir ama Mira!! Gimana sih ni anak satu?! Yang kayak gitu aja nggak tau.

“Gengsi naksir sama Mira?” tanya Bima masih dengan tenang.

Heran ni anak, kok bisa sih dia santai-santai gitu sementara aku sudah kayak orang kena serangan jantung gini.

“Nggak gengsi kok,” aku menjawab ketus.

“Terus kenapa?”

“Gw bingung, Bim!! Kenapa harus Mira?”

“Kenapa bukan Mira?” Bima membalikkan pertanyaan.

“Kenapa sekarang? Kenapa nggak dari dulu? Kok bisa??”

“Karena memang saatnya harus sekarang, bukan kemarin, bukan besok-besok. Pasti bisa karena Allah bilang bisa,” Bima.

“Gw nggak ngerti!!”

“Gimana kalau Mira emang jodoh lu? Cuma baru sekarang aja dia dimunculkan sama Allah ke dalam hati lu.”

“Bukan karena sugesti?” tanyaku frustasi.

“Sugesti apaan?”

“Jangan-jangan gw jadi gini gara-gara gw tau Mira mimpiin gw.”

“Darimana lu tau Mira mimpiin lu?” tanya Bima curiga.

“Gw pernah ngambil laptopnya terus gw baca-baca tulisan hariannya. Tadinya gw mau nyari rahasia yang bisa gw pergunakan untuk ngejajah snack sama mobilnya dan dia nggak bisa komplain. Sekalian gw mau nyari tahu kenapa dia jadi aneh sama gw. Nggak taunya gw baca catatan hariannya dan taulah gw semua tentang dia.”

“Kalau cuma karena itu lu nggak akan jadi gini kan?”

Aku tertunduk lesu. Iya sih, nggak akan sampai segininya. Paling parah aku akan menghindar dari Mira dan segera mencari pacar.

“Gw mimpi tidur di pangkuan perempuan. Cuma gw nggak bisa liat wajah perempuan itu. Ternyata Mira juga mimpi hal yang sama, tapi dia bisa lihat jelas wajah gw. Tadi malam gw mimpiin Mira jelas banget,” aku mengaku dengan lesu.

“Sebulan lebih ini, Mira mimpiin lu terus, Nan. Seharusnya gw nggak bilang ini ke lu, tapi ada baiknya lu tau. Lu baru mimpiin dia dua kali, baru tau kalau dia mimpiin lu dan lu udah pucet kayak tadi. Mira setiap hari, dan dia tersiksa loh.”

Aku mengerenyitkan kening. Mimpiin aku sampai tersiksa? Tersinggung nih.

“Masa lu nggak tersiksa kalau mimpi hal-hal yang nyaris intim dengan seseorang yang bahkan nggak terpikir untuk ditaksir sih?” tanya Bima langsung menancap hatiku.

“Gw harus ngapain, Bim? Bingung gw.”

“Nikahi Mira. Nggak susah kan?”

“Tapi…”

“Gw tau lu pasti ragu. Karena lu nggak ada perasaan apa-apa kan sama Mira selama ini? Berdoa sama Allah, minta petunjuk. Mudah-mudahan lu diberi ketenangan dan jalan keluar.”

Baru kali ini sejak lulus aku kembali shalat tahajjud. Mudah-mudahan aku diberi jalan keluar dan ketenangan hati, seperti kata Bima tadi.

Allah penguasa hati,

Maafkan karena baru kali ini saya kembali padaMu

Berilah saya petunjuk, untuk melakukan apa yang harusnya saya lakukan

Hapuskanlah kegalauan hati saya

Berilah ketenangan

Saya sama sekali tak tahu harus berbuat apa

Tuntunlah saya

Bimbing saya, Rabb

Mantapkan hati saya…

Hanya ini permohonan saya

Mir, udah tidur?

Sender : Hanan

<send>

<message delivered>

<1 message received>

Baru bangun, kenapa?

Sender : Mira

<reply>

Mimpi buruk?

Sender : Hanan

<send>

<message delivered>

Samira

Tumben Hanan sms malam-malam buta kayak begini. Lagian, tau darimana dia aku bangun karena mimpi buruk?

Lebih tepatnya mimpi tentang Hanan lagi.

Kapan semua mimpi ini akan berakhir?

<reply>

Kok tau gw mimpi buruk? Sejak kapan lu bisa baca pikiran orang?

Sender : Mira

<send>

<message delivered>

<1 message received>

Mimpi gw ya?

Sender : Hanan

Kok Hanan…?!!

<reply>

Ge-er lu!

Sender : Mira

<send>

<message delivered>

<1 message received>

Nggak, siapa yang ge-er. Gw serius nih. Lu mimpi gw lagi?

Sender : Hanan

<reply>

LAGI?? Tau darimana sih lu?

Sender : Mira

<send>

<message delivered>

<1 message received>

Inget waktu laptop lu hilang sehari? Itu gw yang ambil. Maaf, gw baca diary lu. Terus tadi Bima blg lu mimpiin gw terus. Jgn mrh sama Bima, dia ngasih tau demi gw juga

Sender : Hanan

<reply>

Lu ya!! Gw marah banget nih sama lu! MARAH

Sender : Mira

<send>

<message delivered>

<1 message received>

Jangan marah malam2, Mira. Please, we need to talk about this. Kmrn gw mimpi lu jg. Akhr2 ini gw kepikiran lu trs.

Sender: Hanan

<reply>

Lu gak perlu jadi mikirin gw. Mimpi2 itu bakalan hilang juga kok, suatu hari nanti. Gak usah kasian ama keadaan gw.

Sender : Mira

<send>

<message delivered>

<1 message received>

Lu nggak kasian ama gw, Mira?

Sender : Hanan

Hanan

Mira,

selalu ada, nggak pernah pergi

memaafkan padahal sudah kujajah habis-habisan

mengerti bagaimana membantuku dalam segala urusan

Tidak…bukan!

Mira,

Karena Allah bilang aku harus sama kamu

Harus sama kamu…

Sama kamu…

Kamu…

Samira

Tidak mau dikasihani

Biar saja ditanggung sendiri

Aku masih punya Tuhan yang memberiku kekuatan

Bukan tidak mau

Tidak mau dikasihani

Biar saja tersiksa sendiri

Hanan

Aku menelepon Mira, nggak peduli kalau ini sudah jam tiga pagi. Aku harus meneleponnya sekarang juga.

“Assalamualaikum. Ngapain nelepon?” tanya Mira ketus.

“Waalaikumsalam. Mira, gw nggak kasian sama lu. Gw mau mengakhiri penderitaan lu.”

“Nggak perlu. Nanti juga berakhir sendiri.”

“Mira…”

“Hanan, udah deh. Nggak usah bikin semuanya jadi kayak kisah sinetron. Gw akan baik-baik aja kok.”

“Gw yang nggak akan baik-baik, Mira. Gw sama tersiksanya dengan lu. Lu mungkin lebih parah, tapi gw juga tersiksa. Lu pikir gimana keadaan gw setelah mimpi ngerasain hangatnya pelukan lu?! Lu pikir gw bisa berpikir jernih sekarang? Lu pikir gw bisa kerja dengan tenang?!!”

Mira diam di ujung sana. Mungkin dia kaget. Mungkin dia jantungan.

Mudah-mudahan dia nggak meninggal. Aku kan belum memiliki dia!

“Kita akhiri siksaan ini sama-sama, ya,” kataku lagi.

Mira masih diam, tapi aku mendengar desah napasnya yang membuatku jantungan lagi, sesak napas, nggak bisa berpikir jernih.

“Gw emang nggak jatuh cinta sama lu, Mira. Belum jatuh cinta. Gw nggak janji bakalan berhenti ngejajah lu kalau kita nikah nanti. Tapi gw nggak sanggup kalau terus-terusan dibayangi lu kayak gini. Lama-lama gw bisa mikir yang bukan-bukan.”

“Tapi…,” Mira.

“Gw nggak mau lu juga tersiksa lebih lama, Mira. Nggak ada yang salah kan kalau kita nikah? Paling nggak gw bisa mikir yang bukan-bukan sepanjang hari kalau kita udah nikah. Malah nggak usah mikir, tinggal nyeret lu aja,” aku mencoba bergurau.

“Hanan!!! Bego!” maki Mira.

“Nikahilah si bego ini, Mira. Bukankah ini pertanda untuk kita berdua? Dan aku nggak mau denger kalau kamu mau mikir-mikir dulu. Jangan perpanjang siksaan yang udah kita derita ini. Cukup sampai disini saja. Ok?”

“Ok.”

“Aku anggap kamu setuju. Besok aku datang ke rumah, ngobrol sama Ayah dan Bunda. Siap-siap ya aku jajah setiap hari.”

“Bweeekk.”

“Bwek juga! Udah ya, Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Samira

Biarkan aku mencintaimu dengan cinta yang diberikan padaku oleh Sang Pemilik Cinta…

Setiap hari

Sepanjang sisa hidup kita

Sampai saatnya kita berjumpa lagi di alam abadi…

Hanan

Izinkan aku belajar mencintaimu dengan restu Sang Pemilik Cinta, Samira…

Setiap hari

Sepanjang sisa hidup kita

Sampai saatnya kita berjumpa lagi di alam abadi…

THE END

Kalau Jodoh Nggak Kemana -part 11-

Posted by: Laila on: October 13, 2008

11

Samira

Bima dan Syifa menginterogasiku. Heran deh sejoli ini, bukannya sibuk-sibuk sama pernikahan mereka yang udah tinggal tiga bulan lagi, malah sibuk wawancara temennya. Takut kali ya kalau aku mendadak terkenal terus mereka belum sempat mewawancaraiku. Aku nggak akan kayak kacang lupa pada kulitnya kok.

“Ada apa antara lu dan Hanan?” tanya Bima dengan mata menyipit, seolah-olah mencium ketidakberesan.

Emang nggak beres sih. Sejak aku mendapat mimpi-mimpi aneh tentang Hanan yang nggak habis-habis bahkan sampai sekarang, aku udah nggak bisa lagi petantang-petenteng di depan Hanan kayak dulu. Nggak bisa seenaknya menghadang jalan untuk memarahinya setiap dia habis mengambil snackku. Nggak bisa seenaknya ninju-ninju atau nyubit Hanan kalau kesal padanya. Pokoknya udah nggak bisa kayak dulu deh!

“Nggak ada apa-apa kok,” jawabku berbohong.

“Bohong!” tandas Bima langsung.

“Nggak bohong!”

“Gw kemaren ke travel. Kata Mang Dadang, Agus, sama Susi, kalian berdua diem-dieman.”

Sebel deh kalau ada sumber-sumber gosip terpercaya di tempat bekerja.

“Kata siapa diem-dieman? Gw sama Hanan masih ngobrol kok, kalau soal kerjaan aja tapinya,” aku mengakui.

“Hanan juga agak nggak nyaman loh tiap kali kita ungkit tentang kamu, Mir. Kalian kenapa sih? Musuhan?” tanya Syifa meredam suasana yang udah agak tegang antara aku dan Bima.

“Nggak musuhan kok, Syifa. Beneran deh. Gw sama Hanan baik-baik aja!” aku berusaha meyakinkan Bima yang terlihat makin nggak percaya.

Sebenernya ini lebih parah daripada musuhan. Gimana nggak? Sekarang indera penciumanku jadi lebih tajam. Aku bisa mencium wangi parfum yang Hanan pakai sebelum orangnya benar-benar berada di dekatku. Padahal, Hanan bukan termasuk cowok ganjen yang kalau make parfum kayak orang mandi. Indera perabaku juga jauh lebih sensitif, malahan kayak ada kabel listrik diselipkan ke balik kulitku. Karena setiap kali jariku bersentuhan dengan jari Hanan, atau waktu aku masih memberi siksaaan fisik pada Hanan, ada aliran listrik mendadak yang membuatku merinding. Mataku bahkan jadi lebih tajam, dari kejauhan saja aku sudah bisa melihat keberadaan Hanan, parahnya aku bisa mengenali Hanan hanya dari sepatu yang dia pakai, atau cara dia berdiri.

Ini bener-bener lebih parah daripada musuhan!!

“Nggak mungkin nggak ada apa-apa. Gw udah bertahun-tahun bareng sama kalian, Mir. Kalian kalo musuhan cuma seminggu, ini udah lebih dari satu bulan. Kalian emang masih ngomong, tapi cuma yang resmi-resmi. Hanan juga suka mendadak marah kalau ada topik yang menyangkut lu. Dimas sama Noval juga ngerasa ada yang aneh. Kalian kenapa sih?”

“Ah tau ah! Udah gw bilangin nggak ada apa-apa juga, nggak percaya! Terserah deh. Kenapa nggak tanya sama Hanan sana?!”

“Emang mau! Syif, kamu lanjutin interogasi Mira ya. Kayaknya dia nggak mau ngaku kalau ada aku disini.”

^%^&*)(II_+&%%

Hanan

Sebenernya ini momen yang langka, aku, Dimas, Bima, dan Noval berkumpul lengkap di satu tempat. Apalagi Sabtu malam kayak sekarang. Sejak masing-masing punya pasangan, mereka memilih menghabiskan Sabtu malam bersama pasangan. Kecuali Bima yang pasangannya emang alim, jadi dia kadang nongkrong denganku, yang nggak punya pasangan. Menyedihkan! Aku maksudnya… .

Aku membakar satu batang rokok, akhir-akhir ini frekuensiku merokok jadi agak meningkat, setelah aku membaca buku harian Mira dan mulai mikir yang aneh-aneh tentang gadis itu. Mira bener-bener menghindariku, dan aku jadi ikut-ikutan nggak mau deket-deket sama Mira. Gimana nggak? Aku jadi ikut-ikutan ngerasa setrum-setrum voltase rendah kalau nggak sengaja bersentuhan dengan Mira yang emang udah nggak mau lagi nyentuh-nyentuh aku. Bahkan parahnya, kadang waktu aku menatap Mira agak lama (yang ditatap nggak nyadar kok), aku merasakan kembali rasa hangat dan nyaman kayak mimpiku waktu itu. Ugh…

“Lu jadi demen ngerokok ya akhir-akhir ini. Ketauan Mira dimarahin loh,” kata Bima mengingatkan. Kenapa sih setiap aku merokok, pasti nama Mira disebut-sebut? Apa aku mengisap ganja aja biar yang disebut nama Kapolda?!

“Nggak ada Mira ini disini, bawel amat sih lu. Heran, dikit-dikit Mira begini, Mira begitu. Kayak orangnya bakalan peduli aja,” gerutuku kesal lalu dengan sengaja menghisap rokok dalam-dalam.

“Eh, dia kan selalu ngomel tiap ada yang ngerokok sembarangan di tempat umum. Lagian gw perhatiin, lu kok ngomel melulu sih tiap kita ngomongin Mira? Musuhan ya?” tanya Noval.

“Kagak. Siapa yang musuhan sama Mira coba?!”

“Terus kenapa marah-marah terus?”

“Siapa yang marah-marah?! Duhh, ini kopi gw kok belum datang juga ya,” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Aku menghisap rokokku dalam-dalam, mengembuskannya ke langit malam. Mengotori langit, nambah-nambah polusi. Untung nggak ada aktivis Green Peace yang lagi promosi kegiatan di sekitar sini, kalo nggak aku bakalan kena damprat atau dapat cibiran sinis dari para aktivis itu.

Software house lu apa kabarnya?” tanya Dimas yang sepertinya cukup mengerti kalau aku nggak mau ngebahas soal Mira banyak-banyak.

“Alhamdulillah lancar, lagi ada kerjaan orang-orang disana. Selasa besok gw mau berangkat kesana.”

“Nggak capek bolak-balik terus kayak gini?” lanjut Dimas lagi.

“Ah, biasa aja. Lagian Mira udah lebih banyak ngerti urusan travel, jadi bisa ngegantiin gw.”

Mira lagi!!!

“Ada untungnya juga ya lu kacau waktu itu, jadi Mira bisa ngegantiin lu seandainya ada apa-apa. Gw denger-denger kalian kompak banget sekarang di travel,” tambah Noval.

Emangnya nggak ada topik lain yang nggak menyangkut Mira apa?!

“Biasa aja. Lu denger dari siapa sih?”

“Dari Bima yang dapet sumber terpercaya dari karyawan. Kenapa sih sewot amat?” Noval.

“Nggak kenapa-kenapa,” jawabku kesal.

“Eh, lu belum dapet pengganti Dika?” tanya Noval lagi.

Errgh, apa topik pembicaraan malam ini hanya seputar hidupku? Kenapa nggak ngebahas hidup mereka aja? Ngebahas bola kek, racing kek, apalah gitu. Ini dari tadi muter-muter aja di situ, Mira lagi, Mira lagi.

“Belum. Kenapa nanya-nanya? Mau bikin orang sirik soalnya kalian mau nikah semua?!” terang-terangan kutunjukkan kekesalanku.

“Daripada sirik, cari calon sana. Ntar biar kalo ngumpul-ngumpul, lu nggak gigit jari doang,” komentar Noval lagi.

“Gw gigit kepala lu aja deh, sayang jari gw kebagusan kalo digigitin.”

“Dikasih tau malah ngeyel. Cuma lu sama Mira tau yang belum dapet pasangan. Kalau nggak, kalian nikah aja. Kita rela kok kalau kalian nikah,” usul Noval. Entah Noval ini mendadak gila atau dalam kopi susu yang dia minum ada heroinnya. Halusinasi kayaknya.

“Iya, kalian nikah aja deh. Kalau gw liat-liat kalian cocok loh dari dulu,” Dimas menambahkan.

Apa cuma kopiku aja yang nggak ada heroinnya?! Cuma aku kah yang waras??

“Cocok apaan sih? Ngaco semua!”

“Mira kan paling suka beli cemilan, lu paling suka ngejajah cemilannya. Mira nggak suka ngejailin orang, lu paling suka ngejailin dia. Lu berantakan, Mira teratur. Lu bikin masalah kemaren, Mira yang turun tangan ngeberesin masalah lu. Cuma kalian berdua yang adu fisiknya lebih banyak dibanding yang lain, bahkan Bima aja yang paling deket sama Mira nggak segitunya. Kurang cocok apa tuh?” Dimas.

“Udah, jadiin aja. Serius nih, kalau kalian nikah, urusan travel juga enak. Kalian bisa saling bahu membahu ngurus travel,” Noval.

“Bim! Lu diem aja dari tadi, bantuin gw kenapa?!” aku.

Bima hanya menatapku tajam. Sebenarnya, dari tadi kuperhatikan Bima hanya menatapku saja. Dia ini ada di dunia ini atau di dunia mana sih? Jangan-jangan lagi trance lagi.

“Gw beneran heran. Lu sama Mira sama-sama aneh. Ada apa sih sama kalian berdua?” Bima.

“Aneh kenapa, Bim? Si Mira emang kenapa?” Dimas.

“Lu bikin macem-macem lagi ya sama Mira?” Noval.

“Kagak ada kenapa-kenapa, Masya Allah! Lu ngomong apa sih Bim?” aku.

“Bim, si Mira kenapa?” Noval.

“Si Mira juga selalu menghindar ngomongin Hanan, terus kalo terpaksa harus nyebut nama anak ini satu, pasti udahannya ngomel-ngomel. Udah gitu, gw nggak pernah denger lagi tuh si Hanan ngembat-ngembat mobil Mira, kalo snack sih udah biasa. Pasti ada apa-apa nih sama dua makhluk ini,” Bima menjelaskan pada Noval dan Dimas yang langsung menghadiahkan tatapan penuh tanya padaku.

“Gw nggak ngapa-ngapain kok! Emang sekarang lebih suka bawa mobil sendiri kalo emang perlu,” aku berusaha menjawab keingintahuan mereka.

“Nggak mungkin banget!! Nggak mungkin lu rela make mobil kalo bisa ngejajah mobilnya Mira. Bohong lu, Nan!” Noval menggelengkan kepalanya kuat-kuat, sama sekali nggak percaya dengan jawabanku barusan.

“Terserah lu mau percaya apa nggak! Emang gw lagi demen nyetir make mobil sendiri kok.”

“Lu naksir dia ya? Malu ya ketauan naksir ama Mira?!” Dimas betanya dengan tajam.

“Tau ah!” aku.

Dimas, Bima, dan Noval saling memandang seolah-olah menemukan jawaban keanehanku selama ini. Sebenernya tujuan ngumpul malam ini apa sih? Mewawancaraiku ya? Menginterogasiku karena aku dan Mira sama-sama menjaga jarak?!

Sial!

Samira

Syifa sengaja menginap di rumah malam ini, menginterogasiku. Gimana aku bisa nolak coba? Masa ngusir tamu? Kurang ajar banget namanya. Nggak selamat deh aku malam ini, diinterogasi psikolog! Bahkan, mungkin Syifa bisa hipnotis. Oh no!!!

“Aku belum kenal kamu deket, Mira. Jadi aku nggak tau gimana kamu biasanya dengan Hanan, kecuali yang udah diceritain sama Bima aja,” kata Syifa lembut saat kami sudah berganti piama, menjelang tidur.

“Emang Bima cerita apa aja sih?” tanyaku penasaran.

“Tentang kamu dan Hanan?”

“Tentang aku aja, tentang aku dan Hanan juga.”

“Kalau tentang kamu sih banyak, sampe aku sempet cemburu. Soalnya Bima bilang, dia selalu ditemenin kamu waktu masih ngejer-ngejer aku,” jawab Syifa geli. Mungkin dia geli karena pernah cemburu sama aku. Ya iyalah, cemburu kok sama aku! Dia nggak tau sih, kalo Bima itu salah satu objek derita siksa fisik yang sering kulancarkan. Selain Hanan tentunya.

“Kalo aku nggak nemenin dia, Fa, dia bakalan terjun bebas dari atap gedung kantornya. Kerjaannya tuh pasti nongkrong nelangsa di atap kantor. Pernah tuh satu kali dia sampe komplain sama Allah pake teriak-teriak pas lagi hujan di atap kantornya. Untung nggak dikira gila mau bunuh diri.”

“Iya, dia cerita juga soal itu. Alhamdulillah sekarang nggak lagi ya.”

“Kalo masih berarti dia gila beneran, Fa. Cari laki lain aja,” gurauku lalu kami berdua tertawa bersama.

“Terus, kalo tentang aku sama Hanan?”

“Penasaran ya?”

“Gimana nggak? Sampe kamu mau-maunya ditugasin ngorek-ngorek keterangan dariku kayak gini.”

“Kata Bima sih, kalian itu kayak kucing sama anjing, berantem terus. Hanan ngejailin kamu, kamu ngomel soal Hanan, tapi masih terus aja dijailin sama dia. Terus yah soal gimana hubungan kalian waktu Hanan patah hati kemarin itu. Katanya kalian jadi kompak setelah kejadian itu.”

“Soalnya aku kan jadi agak ngerti urusan travel, terus jadi ada ide-ide baru. Jadi sering diskusi sama Hanan juga. Nah, si Hanan ini dikasih hati minta usus, sekarang diskusinya melebar ke bisnis dia sendiri. Berasa jadi sekretaris deh.”

“Jadi sekretaris seumur hidup aja, Mira. Kan lebih enak.”

“Howek! Nggak mau. Enak aja,” aku menolak mentah-mentah usul Syifa, meski pada saat yang sama hatiku langsung terasa nggak enak. Tiba-tiba serasa ada yang menghalangi jalur pernapasanku.

“Kenapa sih nggak mau banget sama Hanan? Kalian kayaknya cocok. Hanan juga terbilang tampan. Apalagi yang kurang?”

Aku mengedikkan bahu. “Nggak tau, pokoknya nggak deh.”

Nggak sampai Hanan sendiri yang suka padaku. Aku nggak mau suka duluan sama Hanan, nggak mau terbawa melankolik seperti mimpi-mimpiku. Nanti dikira Hanan, dikira semua orang, aku kegatelan lagi menyodorkan diri begitu. Kenapa sih aku nggak mimpiin Vin Diezel aja? Kan nggak usah merasa nggak enak begini?!

“Beneran nih? Kamu nggak ada perasaan apa-apa sama Hanan?”

“Nggak,” jawabku langsung.

Langsung bohong.

Selanjutnya kami ngobrol ngalor ngidul tentang hal-hal nggak penting lainnya, termasuk pernikahan Syifa yang tinggal 3 bulan lagi. Lalu kami tertidur dengan lelap.

Hanan menggenggam tanganku dengan erat dan berjalan di depanku. Kami tiba di bawah pohon besar yang ada di seberang danau buatan di Kebun Raya Bogor. Tempat ini lagi!

“Aku nggak akan nanya nama botani pohon ini, kok,” gurau Hanan dengan senyumnya yang paling manis yang pernah kulihat selama ini.

“Awas ya, kalo nanya kucubit!”

Tunggu dulu, sejak kapan aku beraku-kamu dengan Hanan?!!

“Mira, jangan tinggalin aku ya,” kata Hanan lembut. Ibu jarinya mengelus punggung tanganku yang digenggamnya.

“Ya nggak lah. Emangnya aku mau kemana pake ninggalin kamu segala. Aku bakalan bareng kamu terus kok.”

“Makasih ya,” Hanan memelukku erat.

Ugh…Hanan selalu nyaman seperti ini. Kayak pulang ke rumah setelah lelah seharian dan ngeliat masakan Bunda di meja makan.

Aku terengah-engah dan berkeringat. Mimpi Hanan lagi untuk kesekian kalinya. Emangnya nggak ada cowok lain apa yang bisa masuk ke alam bawah sadarku? Kenapa melulu Hanan?!

“Mira, kenapa?” tanya Syifa yang sekarang duduk tegak di sampingku dan memandangku dengan khawatir.

“Nggak kenapa-kenapa kok, Syifa. Mimpi buruk aja. Aku ambil minum dulu ya,” kataku menenangkan.

Pelan-pelan aku keluar kamar dan berjalan menuju dapur, mengambil segelas air dingin. Gara-gara keseringan mimpi Hanan dan terbangun di tengah malam minggu-minggu terakhir ini, aku diomelin Bunda karena selalu menghabiskan air dingin. Gimana nggak? Setiap aku memejamkan mata dan tidur, pasti mimpi Hanan. Mau malam kek, mau siang kek, pokoknya kalau udah tidur, mimpi Hanan! Nah, akibatnya kalau sudah mimpi Hanan, aku harus mendinginkan badanku yang mendadak berkeringat parah dengan air dingin. Bisa sampai tiga gelas besar aku minum, nggak peduli meski di luar sana tengah malam dan hujan deras! Pokoknya air dingin!!

Aku kembali ke kamar dengan perasaan sedikit lega. Syifa ternyata belum tidur lagi, dia malah duduk di pinggir ranjang, nampak sedang berpikir.

“Fa, kok nggak tidur lagi? Maaf ya aku ngebangunin kamu jadinya.”

“Nggak apa-apa kok, Mira. Aku Cuma penasaran, kamu mimpi apa sampai kayak tadi.”

Aku diam mematung.

“Nggak mimpi apa-apa kok. Emang akhir-akhir ini sering mimpi buruk aja,” jawabku perlahan lalu melangkah ke sisi tempat tidur yang tadi aku tiduri.

“Dari kapan mimpi buruknya?”

“Nggak inget sih, tapi udah sebulan lebih deh.”

“Sejak ngehindar dari Hanan atau gara-gara mimpi buruk jadi ngehindar Hanan?” tebak Syifa.

Tebakan Syifa membuat lututku terantuk pinggiran tempat tidur. Aku mengaduh dengan keras, kayaknya tempurung lututku hancur deh.

“Sejak mimpi buruk kamu ngehindar dari Hanan ya? Mimpi buruk kamu ada Hanannya, kan?” Syifa langsung menarik kesimpulan sendiri.

Aku pura-pura nggak mendengar kesimpulan Syifa tadi dan sibuk mengelus-elus lututku yang besok pasti memar hebat.

“Mira, ini udah jam dua pagi loh. Nggak ada salahnya kok ngomong jujur, biar tidurnya lebih enak,” bujuk Syifa sambil tersenyum manis. Syifa kok masih bisa keliatan manis sih jam segini? Aku nggak pernah bisa tuh manis gitu, kalo jelek kayak nenek lampir mungkin.

“Kamu mimpi Hanan ya?” tanya Syifa.

“Iya,” jawabku dengan suara sepelan mungkin.

“Mimpi apa?”

Aku menghela napas panjang, lalu berbaring terlentang. Ugh…masa harus cerita mimpi apa sih?

“Jangan ketawa ya. Aku mimpi agak-agak intim sama Hanan.”

Syifa sedikit terbelalak, kayaknya dia mikir aneh.

“Bukan! Bukan mimpi adegan ranjang kok. Mimpinya aku bareng-bareng terus sama Hanan, terus manja-manjaan. Pegangan tangan, pelukan, gitu deh. Makanya aku ngehindar dari Hanan kalau ketemu. Habisnya…”

“Jadi inget mimpi?” tebak Syifa yang kujawab dengan anggukan.

Syifa ikut berbaring terlentang dan berdua kami memandangi langit-langit kamarku. Ada dua cicak disana, yang satu sepertinya jantan yang sedang merayu betina. Kayaknya mau kawin tuh!

“Mimpinya sering?” tanya Syifa lagi.

“Ngg…setiap hari sih.” Aku nggak mau menambahkan kalau setiap tidur aku bermimpi Hanan, nanti nambah runyem deh masalah.

“Pernah kepikir nggak Mira kalau mimpi-mimpi itu mungkin pertanda?”

“Pertanda apaan?” aku balik bertanya dengan bingung.

“Apa mungkin, Hanan jodoh kamu?”

Sangking kagetnya dengan asumsi Syifa barusan, aku langsung bangun dan kepalaku yang malang ini terantuk sandaran tempat tidur. Ampun!! Sudah lutut, kepala pula!

“Nggak mungkin banget!” seruku.

“Kenapa nggak?”

“Aku nggak punya perasaan apa-apa sama Hanan! Nggak pernah naksir sama sekali sama dia. Nggak mungkin lah!” aku menolak mentah-mentah gagasan Syifa tadi.

“Apa coba yang nggak mungkin buat Allah? Yang nggak suka bisa aja jadi suka, sebaliknya juga begitu. Jodoh kan nggak selalu orang yang kita cintai di awal.”

“Tapi, Hanan?! Nggak deh!” aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat.

Jodohku Hanan?! Nggak salah?? Nggak mungkin!!

“Habisnya menurutku ya, kenapa lagi coba kamu selalu mimpi Hanan? Bukan Cuma kadang-kadang, tapi setiap hari. Terus, ada perubahan nggak di lingkungan sekitar kamu?”

Aku diam sejenak, memutuskan untuk berkata jujur apa tidak.

Udah jam setengah tiga pagi, jujur aja deh.

“Yaaah, ada sih. Mendadak semua orang yang kenal sama aku jadi ngejodoh-jodohin sama Hanan. Pokoknya nggak Bunda, nggak karyawan di kantor, semuanya jadi seneng banget bilang kalau aku cocok sama Hanan. Bikin sakit gigi aja.”

“Tuh kan, bukannya itu pertanda, Mira? Bahkan bukan Cuma lewat mimpi, tapi dipertegas dengan omongan-omongan orang di sekitar kamu.”

“Tapi dulu juga sebelum Bima kenal sama kamu, beberapa temen sempet ngira aku bakalan jadian sama dia. Padahal nggak kan?!” elakku.

“Kamu dulu nggak pakai mimpi seintens ini kan? Kamu nggak pakai ngerasain setrum-setrum kan?”

“Kok kamu tahu aku ngerasain setrum-setrum??” tanyaku terpana.

Syifa ini punya pekerjaan sampingan sebagai cenayang apa?

“Habis kata Bima, kamu ngehindar terus dari Hanan di kantor. Biasanya sih perempuan kalau udah menghindar dari laki-laki tanpa alasan jelas, ya karena setrum-setrum. Apalagi coba?”

Aku manyun berat, Syifa bener-bener mengorek habis semua yang kusimpan rapat-rapat selama ini.

“Mira, serius nih. Kayaknya itu semua pertanda dari Allah deh, kalau kamu dan Hanan memang harus bersama selamanya. Coba kamu minta petunjuk dari Allah. Dulu kamu kan yang sering nasehatin Bima supaya selalu memulangkan semua masalah ke Allah.”

“Iya, Fa. Kemaren-kemaren juga curhat terus sama Allah, tapi mimpinya nggak hilang-hilang. Malah makin sering, makin jelas,” kataku pelan.

“Nah..itu berarti positif kamu harus nikah sama Hanan.”

“Aku nggak mau bilang duluan sama Hanan, Fa. Takut. Nanti dikira aku kegatelan, padahal aku juga nggak mau dapet mimpi kayak gini. Aku nggak pernah kepikir sama sekali untuk naksir sama Hanan. Aku Cuma pengen mimpi-mimpi ini udahan. Tersiksa nih.”

“Berdoa sama Allah, Mira. Mudah-mudahan hati Hanan terbuka dan cepet melamar kamu, biar kamu nggak usah tersiksa terus. Berdoa ya,” Syifa menenangkanku lalu meraih pundakku dan merangkul dengan pelukan yang hangat.

Indahnya punya teman yang bisa mengingatkanku untuk selalu pulang pada Allah setiap punya masalah.

Allah yang Maha Membolak-balik Hati

Yang Maha Menguasai hati dan jiwa

Kali ini saya pasrah betulan…

Kalau memang lelaki yang Engkau takdirkan untuk melengkapi separuh imanku adalah Hanan Prasetya

Jika dia lelaki yang Engkau takdirkan untuk berjalan di sisiku

Sepanjang hidupku

Dunia Akhirat

Mudahkanlah jalan kami untuk bersatu

Mudahkanlah…

Mudahkanlah…

Hanan

Loh, kok aku ada disini lagi sih?? Di bangku taman tempat aku merebahkan kepalaku di pangkuan perempuan yang wajahnya nggak sempat kulihat.

“Hanan! Ngapain bengong disini?” sebuah suara yang amat familiar bertanya padaku dari belakang.

Aku menoleh dan mendapati Mira berdiri dengan anggunnya tepat di belakangku. Anehnya dia mengenakan gaun putih baby doll yang amat sangat cocok dengannya. Mira kan jarang-jarang pakai baju yang feminin dan dia sangat cantik. Mendadak aku merasa ingin menyandarkan kepalaku di tubuhnya, jadi aku langsung menarik lengan Mira dan membawanya tepat berdiri di hadapanku.

“Aku capek, Mira. Boleh meluk nggak?” tanyaku ragu.

Mira tertawa pelan lalu mengusap kepalaku, mengecup puncak kepalaku, dan yang membuatku bertambah kaget, dia membawa kepalaku bersandar di perutnya.

“Ya bolehlah, masa nggak? Nyandar kapanpun, sampe kamu puas juga boleh.”

Dalam sekejap aku merasa amat sangat nyaman. Seperti menemukan tempat beristirahat setelah kerja seharian.


Kalau Jodoh Nggak Kemana -part 10-

Posted by: Laila on: October 13, 2008

10

Tiga bulan kemudian…

Hanan

Oh, aku baru ingat!! Dulu kan aku pernah berencana nyuri laptopnya Mira terus ngorek-ngorek isinya. Siapa tau ada rahasia yang bisa kupergunakan untuk menjajah Mira. Paling nggak ngejajah snacknya deh. Akhir-akhir ini dia tambah rajin beli makanan deh, bahkan kualitasnya meningkat. Kemarin aku berhasil mengambil satu toples kecil kastangel dari lokernya. Hohoho, kayaknya dia lagi demen kue kering.

Sekalian, aku mau nyari informasi kenapa sebulan terakhir ini Mira menghindariku terus. Ngobrol cuma gitu-gitu aja, kalo aku ngambil snacknya dia cuma ngedumel terus ngirim sms nggak jelas. Nggak ada lagi acara menghadangku di depan pintu lalu memandangiku dengan galak, apalagi memberikan hukuman badan yang biasanya amat sangat senang dia lakukan. Waktu aku tanya ke Bima, dia juga nggak tau kenapa Mira jadi aneh begini, soalnya Mira nggak pernah cerita apa-apa. Mungkin kabel di otaknya sedikit konslet kali ya.

Hmm, iya benar! Ini saat yang paling tepat melaksanakan rencanaku itu.

Yes!! Akhirnya, laptop Mira sudah ada di tangan, hohoho Mira…siap-siap ya!

Duhh, passwordnya apa ya?

Samira

Loh, perasaan tadi laptop udah dimasukin ke mobil deh. Kok nggak ada?

Nan, lu ngambil laptop gw ya?

Sender : Mira

<message delivered>

<1 message received>

kagak, bukan gw yang ambil

Sender : Hanan

Masa hilang?!!

Hanan

Oh, oh, ini dia kumpulan tulisannya. Diary bukan sih? Kayaknya iya deh.

Duuh, lengkap deh udah penderitaan. Tadi ditanyain sama Hanan, gw bakalan sama siapa. Eh, pas lagi makan malam, Bunda juga nanya, gw sama siapa ntar. Kenapa sih nggak ada yang bisa nerima kalo gw emang belum dapet aja jodohnya. Bahkan kalo emang nggak ada, ya gw akan baik-baik aja kok. Nggak nikah kan nggak akan jadi masuk neraka.

Ketika satu hal hilang, satu hal lain akan datang menggantikan.

Ternyata bukan cuma Ibu yang ribet ngurusin aku nikah sama siapa. Bundanya Mira juga. Ya iyalah, Mira kan cewek, gimana Bundanya nggak ribut nanyain?!

Kok gw mimpi Hanan terus ya akhir-akhir ini?? Argh…mimpinya aneh-aneh lagi. Mimpi Hanan nemenin gw ke pasar, mimpi naik perahu berdua sama dia. Yang paling parah, gw mimpi dia tidur di pangkuan gw!! Oh no! No, no! We’re talking about HANAN, dude! Gw kan ketemu sama dia di kantor nyaris tiap hari. Mana dia jadi tambah rajin ngambil snack atau sengaja ngajak ngobrol. Bikin tambah nggak enak hati aja.

GW NGGAK GEER!

Tapi yang kayak gitu malah memperparah keadaan. Soalnya, frekuensi mimpinya jadi lebih sering. Liat muka Hanan aja bisa keingetan deh tuh mimpi aneh-aneh.

Serius nih Mira mimpi aku tidur di pangkuan dia?! Kok kayaknya aku pernah mimpi kayak gitu juga ya? Ceritanya di mimpi itu aku lelah sekali, terus ada perempuan duduk di bangku taman, dan kemudian tiba-tiba saja aku merebahkan kepala ke pangkuannya. Aku nggak inget banget wajahnya siapa, tapi aku bisa inget rasanya. Hangat, nyaman. Pokoknya lelahku langsung hilang di dalam mimpiku.

Jangan-jangan perempuan yang ada di dalam mimpiku itu,…

MIRA?!!!

Masa Bunda tadi bilang gini, “Kayaknya kamu sama Hanan cocok ya. Kalian berdua nikah aja, Bunda juga suka kok sama Hanan.”

Doeng Doeng!!

Udah gitu paginya, di kantor juga, Mang Dadang bilang hal yang sama. Katanya semenjak gw dan Hanan gantian cuti, gw makin kompak sama Hanan, apalagi kalau udah ngurusin urusan kantor dan bisnisnya Hanan.

Doeng Doeng Doeng!!!

Kenapa sih nggak ada raja minyak yang sekarang juga ngelamar gw?! Biar gw terbebas dari beban kayak gini! Bukannya gw nggak suka Hanan, tapi gw nggak suka diginiin sama orang-orang. Belum lagi mimpi-mimpi yang tetep aja bandel muncul tiap malam. Padahal gw udah wudhu sebelum tidur, ngaji, baca doa, sampe dengan kampungnya gw sujud sampe nangis supaya gw nggak mimpi Hanan. Nggak enak tahu mimpiin temen sendiri dengan adegan seintim itu.

Kemaren malah mimpi pelukan sama Hanan.

Ihikz ihikz…pengen cuti lagi!! Biar nggak usah ketemu sama Hanan dalam waktu yang lama.

Malu!!!!

Aku mematikan laptop Mira tanpa menutup semua program yang kubuka terlebih dahulu. Udara terasa gerah tiba-tiba, dan membuatku sesak napas. Cepat-cepat aku turun dari ruanganku dan menuju garasi, aku bener-bener butuh rokok sekarang! Nggak peduli kalau Mira marah-marah padaku nanti.

Mira..

ROKOK SEKARANG JUGA!

“Pak, kenapa kayak orang susah gitu?” tanya Agus yang dari tadi mondar-mandir dapur-garasi. Aku sendiri nggak tau kenapa dia mondar-mandir, tapi kayaknya sih bukan karena kebelet ingin ke toilet seperti aku dulu. Waktu Mira balas dendam padaku dan menaruh obat pencahar di dalam kopi yang kuminum.

“Nggak kenapa-kenapa kok.”

“Kalo ada Teh Mira, Bapak dimarahin loh ngerokok terus.”

Aku menggeram kesal. Maksudku ngerokok kan supaya nggak mikirin Mira, ini malah diungkit-ungkit. Kusundut rokok juga si Agus ini.

“Mira kan nggak ada disini, Gus. Biarin dong saya sekali-sekali ngerokok. Kayak kamu nggak aja,” gerutuku.

“Sekarang udah ngurangin, Pak. Habis diceramahin terus sama Teh Mira. Udah gitu, calon istri saya juga nggak suka sama rokok.”

HAH?!!

Aku terbatuk-batuk keselek asap rokok. Agus udah punya calon istri?! AGUS?!!

“Kamu udah punya calon istri, Gus?” tanyaku berusaha menjaga agar nada suaraku tetap tenang.

Agus menjawab dengan wajah sumringah, “Iya, Pak.”

Agus!! Agus bakalan nikah!

“Selamat ya, Gus. Kapan pestanya?”

“Bulan Januari nanti, Pak. Bapak harus datang ya. Teh Mira malah mau jadi MC nya.”

Mira lagi, Mira lagi!

“Iya dong, jelas saya datang. Hebat kamu Gus, udah mau nikah aja.”

“Bapak kapan, atuh?”

“Yah, belum ada jodohnya, Gus. Masa mau maksa,” jawabku getir.

“Sama Teh Mira aja. Bapak kan cocok sama Teh Mira. Mesra wae.”

Pantas saja Mira pengen cuti lama-lama. Aku juga bakalan gitu kalau diginiin. Masa aku dibilang mesra sama Mira?! Kiamat apa dunia ini??

“Mesra gimana?! Pacaran aja nggak.”

“Kan mesra mah nggak perlu pacaran, Pak. Habis Bapak kayaknya suka banget ngejailin Teh Mira. Terus waktu Bapak cuti, Teh Mira kayaknya cocok banget deh ngegantiin posisinya Bapak. Sekarang malah meuni akur pisan kalo udah ngomongin soal kerjaan. Cocok, saling melengkapi.”

Kucocok juga hidungmu kalo ngomong gitu lagi!!

“Ah, udahlah, kamu jangan ngaco deh Gus. Udah malam juga. Saya mau ke ruangan dulu, mau pulang.”

“Tapi, beneran Pak. Karyawan yang lain juga bilang, Teh Mira cocok sama Bapak. Jadikeun wae atuh Bapak.”

Aku nggak menggubris ucapan Agus barusan. Kalau kugubris bisa tambah panjang dan bisa-bisa kucekek si Agus. Ini sih nggak ada gunanya aku merokok barusan. Tambah nggak tenang hatiku.

Kalau Jodoh Nggak Kemana -part 9-

Posted by: Laila on: October 13, 2008

9

Samira

Aku tengah membacakan dongeng untuk anak-anak balita di hadapanku saat aku sekilas melihat gerakan aneh di sampingku. Gerakan orang gugup dan ragu-ragu. Sengaja aku meneruskan membaca dan nggak memerdulikan orang yang mungkin sekarang sudah berada di belakangku atau entahlah, pokoknya di sekitarku. Padahal, jelas-jelas sepertinya anak-anak di hadapanku lebih tertarik dengan orang yang baru datang ini dibanding dengan dongeng yang kubacakan.

“Mir…,” panggil suara yang sudah amat kukenal dan kuhindari akhir-akhir ini.

Aku menutup buku dan menghela napas panjang.

“Adek, dongengnya udah dulu ya. Gimana kalau kalian main balok kayu? Mau??”

“Mauuuu!!” seru anak-anak dan langsung berhamburan mencari kotak berisi balok kayu. Untung Pandu dan Rani sudah siap sedia di sudut ruangan menemani prajurit-prajurit kecil ini bermain. Berlambat-lambat aku membereskan buku dongeng (padahal cuma sebiji aja di pangkuanku), bangku-bangku dan bantal-bantal yang tadi diambil anak-anak saat mendengarkan dongeng, lalu mengembalikan ke tempat seharusnya.

“Mir…,” panggil suara itu lagi.

Aku menegakkan badanku, meregangkan badan, ke kiri, ke kanan. Meregangkan leher, ke kiri, ke kanan.

“Samira!”

Akhirnya aku menoleh juga. Hanan sudah menunjukkan ekspresi kesal ketika akhirnya aku melihat ke arahnya. Sebodo amat dah. Emang enak dicuekin?!

“Dipanggilin dari tadi nggak denger, budeg?” tanya Hanan kesal.

“Ngapain kesini? Nggak nerima sumbangan ya,” jawabku pura-pura nggak denger pertanyaan Hanan tadi.

“Ngobrol di luar yuk, nggak enak sama anak-anak,” ajak Hanan. Sikapnya lebih lunak sekarang. Mungkin dia tahu, kalau dia mau adu keras denganku, saat ini, dia akan kalah.

Aku menyetujui ajakan Hanan, dan mengekornya ke teras depan.

“Apaan?” tanyaku dengan tangan terlipat di depan dada.

“Ikut gw ke Bogor yuk.”

Si Hanan ini beneran udah nggak waras ya?! Masa ngajak orang seenaknya ke Bogor sih?? Ngapain coba disana? Ngecengin rusa di kebun raya?

“Nggak mau. Kalo lu mau ngecengin rusa, sana aja sendiri! Nggak usah ngajak-ngajak gw.”

“Udah, ayo ikut aja,” paksa Hanan.

“Nggak.”

“Ikut!”

“Ngapain sih lu maksa-maksa gw?!”

“Gw pengen ngobrol sama lu.”

“Disini aja, kenapa sih?”

“Gw pengen ke kebun raya! Ayo, ikut!”

“Nggak mau,” aku berkeras.

“Ikut!”

“Mobil gw sama siapa?!”

“Sama kita lah. Gw nggak bawa mobil, pake mobil lu aja. Biar nggak usah ditinggalin.”

Masih niat ngerampok mobil orang ya rupanya?!

“Gw nggak akan ngambil mobil lu. Serius nih, ntar pulang gw anterin, terus gw ke kantor lagi. Motor gw disana,” Hanan meyakinkan.

“Ayolah, ikut gw ya,” bujuk Hanan lagi.

“Nggak lama-lama ya disana,” kataku akhirnya menyetujui. Menyerah sebenernya.

“Ambil tas gih. Gw yang nyupir.”

Sambil mengambil tas aku berpikir, ‘Kalo si Hanan masih sama ngaconya kayak kemaren-kemaren, gw suruh rusa seruduk dia aja! Biar tau rasa dia diseruduk rusa!’

Hanan

Kami duduk di bawah salah satu pohon besar yang menghadap ke danau buatan. Waktu kutanya Mira pohon jenis apa ini, dia langsung mencak-mencak dan mengancam akan langsung angkat kaki kalau aku sekali lagi bertanya nama-nama botani pepohonan disini. Dia kan lemah sekali dalam pelajaran botani, makanya dia paling benci soal tata nama tanaman. Lama kami hanya duduk diam memandangi air di hadapan kami dan merasakan udara yang agak hangat. Pasti akan turun hujan lagi nanti sore.

“Lu mau ngomong apa sih sebenernya? Kalo emang cuma mau duduk diam kayak patung gini, nggak usah ngajak gw dong!” gerutu Mira akhirnya. Sebenernya bukannya aku pengen duduk diam kayak patung, aku hanya nggak tau caranya gimana minta maaf pada gadis di sampingku ini.

“Gw minta maaf, Mir,” kataku akhirnya setelah menimbang-nimbang sejenak. Karena kalau aku nggak kunjung bicara, kayaknya Mira udah siap menceburkanku ke danau buatan itu.

“Minta maaf buat apaan?” tanya Mira skeptis.

Lidahku kelu. Duuh, kenapa sih harus nanya beginian segala?! Dia kan tau aku minta maaf buat apa. Masa buat ngembat coklat kesayangannya tadi yang ada di dashboard mobil yang hanya tinggal sebiji sih?

“Minta maaf buat apaan?” desak Mira.

“Buat segalanya. Karena udah bikin lu kalang kabut, bikin lu sakit.”

“Ngapain minta maaf?”

“Ya karena gw ngerasa bersalah dong, gimana sih?! Lu nggak mau gw minta maaf?” aku bertanya dengan sebal.

“Biasanya lu nggak pernah minta maaf kalo ngejajah gw!”

“Gw udah keterlaluan sama lu.”

“Udah waras lagi lu?”

Aku mengangguk pelan menjawab pertanyaan Mira. Sebenernya dibilang waras sepenuhnya sih nggak bener juga, karena terkadang aku masih uring-uringan setiap kali mengingat Dika. Padahal id instant messengernya sudah kuhapus, email-emailnya juga, bahkan semua hal yang mengingatkan aku pada Dika sudah kuhapus. SEMUA.

Tapi, aku emang sudah hampir waras.

“Yang patah hati bukan cuma lu tau, berjuta-juta orang di dunia ini juga pernah patah hati,” kata Mira tajam.

“Iya, Bima juga bilang gitu.”

“Gw sih nggak peduli kalo lu mau patah hati beribu-ribu kali, mau jatuh cinta berjuta-juta kali. Tapi, lu mesti bisa ngatur hidup lu sendiri dong. Baru jatuh cinta, kerjaan kantor ditinggal begitu aja. Eh, patah hati malah lebih parah. Kirain gw lu bakalan ngamuk kalap terus kerja di kantor dua minggu nggak balik-balik ke rumah. Eh ternyata jadi mayat!”

“Gw kan masih cinta sama Dika, Mir. Masa lu nggak ngerti kenapa gw kalap. Dika baru kemaren pulang ke Indonesia, yah gw yang masih ngarep pasti pengen ngabisin sebanyak mungkin waktu dengan dia dong.”

“Tapi nggak harus nyuekin orang-orang yang punya urusan penting sama lu kan? Gw nggak ngerti banyak tentang jatuh cinta, Nan, tapi kalo lu jatuh cinta sama seseorang, dia harus ngeluarin yang terbaik dari diri lu kan?”

Aku diam, nggak bisa berkata apa-apa. Mira benar, seharusnya emang seperti itu.

Seharusnya

Seharusnya Dika nggak usah pulang ke Indonesia

Seharusnya Dika nggak usah ketemu denganku

Seharusnya dari awal aku nggak usah kenal sama Dika

Seharusnya

Aku benci seharusnya.

“Gw bodoh ya, Mir?” tanyaku lemas. Pertanyaan retoris, aku sudah tahu betul seberapa bodohnya diriku.

“Lebih tepatnya lu nggak belajar. Lu nggak bodoh kok, terbelakang mental mungkin.”

Aku langsung mencubit pipi Mira keras-keras sampai yang punya pipi memukulku habis-habisan. Lagian, orang udah serius, dia malah ngelawak gitu. Dasar!

“Gw lagi serius, Mira!”

“Ya gw juga serius kok. Lu emang nggak bodoh, cuma agak idiot dikit. Eits, jangan cubit gw lagi!! Ini komentar serius. Harusnya lu belajar dari jaman lu putus sama Dika dulu. Kata Bima, kalian putus karena dia milih karir ya?”

Aku mengangguk membenarkan.

“Nah, sepengetahuan gw ya, kalo cewek udah ngomong begitu, ya begitulah adanya. Dia udah jadi hambanya karir, nggak mungkin tiba-tiba dia menyadari kalo dia salah jalan terus kembali ke pelukan orang yang pernah dia campakkan. Kalo jadian sama orang baru sih mungkin.

“Dan akhirnya Dika balik cuma karena sebenernya dia ngerasa bersalah udah mutusin lu. Dia tahu kalau lu masih ngarep ngiler-ngiler sama dia.”

“Kalau gitu, kenapa dia nggak bilang aja dari awal? Ketemu, terus langsung bilang?” tanyaku frustasi.

“Yahh…mana gw tahu kenapa? Emangnya gw cenayang, tau isi kepala setiap orang?! Mungkin aja dia nggak tega ngomongnya, makanya dia nunda-nunda. Nggak sadar kalau ternyata penundaan itu malah memperparah keadaan lu. Lu pikir, dia tipe orang yang manfaatin orang terus langsung mencampakkan?”

“Nggak sih, Dika bukan orang kayak gitu. Dia lebih sering ragu-ragu kalo udah tentang emosinya sendiri.”

“Nah, tuh udah ketemu jawabannya. Tau kan kenapa dia nggak bilang dari awal?”

Kami sama-sama diam lagi.

“Mir, kenapa ya gw nggak bisa dapetin Dika?”

“Karena lu tukang ngerebut snack gw! Dika kan lebih sayang ama gw dibanding ama lu!”

BLETAKKK

Refleks aku menjitak kepala Mira, habis kebiasaan banget sih anak ini, ngelawak di saat yang nggak tepat.

“Aduhhh sakit tau nggak! Tangan lu keras, tau!”

“Makanya, jangan maen-maen aja,” gerutuku kesal.

Mira bersungut-sungut sambil mengusap-usap kepalanya yang kujitak cukup keras tadi. Kasian juga sih, jangan-jangan kepalanya retak lagi. Aduh.

“Mungkin, mungkin ya, bukan Dika yang lu butuhin dalam hidup lu,” kata Mira akhirnya setelah berhasil meredakan rasa sakit di kepalanya.

“Gw butuh Dika kok. Amat sangat butuh malah,” aku membela diri. Memang kenyataannya aku amat sangat menginginkan dan membutuhkan Dika dalam hidupku. Kalau nggak, buat apa aku masih mengharap-harap Dika kembali padaku?

“Yang tahu betul kebutuhan lu kan bukan lu, Nan. Allah lebih tau lu butuh sosok Dika atau nggak dalam hidup lu.”

“Jadi, menurut Allah, gw nggak butuh-butuh amat sama Dika, gitu?” tanyaku bingung.

“Congek juga ni orang ya. Dari tadi kan gw ngomongnya begitu!”

“Gw nggak ngerti,” komentarku sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh nggak ngerti.

“Gini nih misalnya. Dulu, waktu kita baru ngejalanin kantor travel setahun, pas lu ulang tahun, lu minta dikasih hadiah spesial kan? Lu minta sofa,” Mira menjelaskan. Aku mengangguk-angguk sekaligus tersenyum kecil mengingat masa itu. Waktu aku keukeuh minta dibeliin sofa kulit yang harganya selangit. Ceritanya dulu aku mau pamrih karena sudah mau ngurusin bisnis travel.

“Nah, gw, Dimas, Bima, sama Noval mikir, gimana caranya nggak ngeluarin duit banyak tapi tetep bisa ngasih hadiah spesial buat lu. Terus kita cari lu butuh apa. Setelah gw perhatiin, lu kan demen tidur di kantor waktu itu, terus sering tidur di sofa ruangan lu yang nggak enak itu, udah gitu besoknya ngeluh-ngeluh sakit leher. Makanya akhirnya gw ngusulin supaya kami beli kursi goyang aja plus bantal. Supaya tidur lu lebih nyaman.”

“Jadi?”

“Analoginya adalah, Allah belum tentu ngasih yang lu inginkan, tapi pasti ngasih yang lu butuhkan. In your case, emang lu sangat menginginkan Dika, mungkin lu merasa lu emang ngebutuhin dia kok, tapi ternyata kata Allah, ‘Ah, kamu nggak butuh-butuh amat sama dia kok’. Makanya, jalan lu untuk bareng sama Dika emang nggak ada dari awal.”

“Terus, siapa yang gw butuhkan? Yang nantinya bareng sama gw?”

“Meneketehe! Masa nanya sama gw? Gw harus naik dulu ke langit ketujuh, terus nyuri-nyuri lihat buku catatannya Allah kalo gitu mah. Ntar ye, gw pesen tiket dulu deh.”

Aku nyengir geli. Iya juga, mana mungkin Mira tau.

“Lu sama siapa, Mir?” tanyaku penasaran. Mendadak aku teringat, Mira sendiri bisa dibilang telat nikah, karena 90 persen teman perempuannya sudah menjadi istri orang.

“Nggak tau lah. Nggak mau tau juga, biar jadi kejutan aja. Lagian, kalo gw nggak sama siapa-siapapun, gw nggak akan menderita ini,” jawab Mira santai.

“Iya tuh! Ibu udah maksa-maksa gw nyari calon menantu. Padahal, nggak nikah kan nggak kiamat,” tambahku.

“Pantesan lu ngebet banget ya pas Dika pulang. Ceritanya kalo bisa sekalian dijadiin calon menantu?” sindir Mira.

Aku menggeleng pelan.

“Gw pikir, kalaupun Dika nggak mau nikah, gak ada masalah buat gw, yang penting gw bisa sama Mira sampe akhir hayat.”

“Hanan gila! Yang nikah aja belum tentu bisa bersama sampai akhir hayat, apalagi yang nggak ada ikatan! Lagian lu mau menanam pohon dosa ya hidup kayak gitu?!”

“Gw kan udah putus asa, Mir.”

“Nanti juga datang yang lebih baik buat lu. Lebih baik menurut Allah ya. Bukan menurut lu.”

“Amin,” mudah-mudahan Allah mengabulkan.

Langit berwarna abu-abu, udara makin sesak. Benar-benar akan hujan sebentar lagi.

“Pulang yuk, ntar kesorean,” ajakku.

“Yuk, yuk,” Mira mengangguk dengan cepat sampai kepalanya bisa saja copot seketika.

“Nan, yang penting lu belajar. Belajar dari keadaan yang kemaren-kemaren. Jangan sampe diulangi lagi. Ngomong-ngomong, gw baru maafin lu kalau lu udah balikin coklat gw yang barusan lu makan! Awas kalo nggak!!”

Samira

Hanan menepati janjinya, dia benar-benar kembali ke kantor dengan angkot setelah mengantarku sampai di rumah. Lucunya, tadi dia keukeuh nggak mau masuk rumah, takut dibantai Ayah dan Bunda karena sudah menyiksaku, padahal aku kan nggak pernah bilang sama Bunda kalau Hanan yang membuatku pontang-panting kerja kemarin-kemarin. Aku tetap bilang kalau Hanan sakit. Makanya, begitu akhirnya Hanan mau juga kuseret ke dalam rumah, Bunda langsung menyambut dengan gembira, yang kurang cuma tim kasidahan komplek aja untuk mengiringi kegembiraan Bunda. Dan Hanan nggak pulang dengan tangan kosong, Bunda langsung memberikan rantang berisi makan malam untuk Hanan. Biar sehat selalu, katanya.

Yang butuh disehatkan itu jiwanya, Bunda…bukan badannya yang emang selalu sehat itu.

Iseng-iseng aku menjelajahi dunia maya. Ceritanya mau nulis di blog kalau temen segengku udah lumayan sembuh dari sakit jiwanya. Waktu aku membuka instant messengerku, ternyata Hanan online, dan langsung menyapaku.

Hanan Prasetya : tumben ol!

Samira Hasan : iseng.masih di kantor?

Hanan Prasetya : hooh. Ngabisin makanannya Bunda. hohohoho :lol:

Samira Hasan : rugi gw ngajak lu masuk ke rumah tadi :angry:

Hanan Prasetya : ah, berisik aja lu. besok gw ganti coklatnya, tadi

udah gw beli

Samira Hasan : kok tumben lu mau ngegantiin makanan gw? biasanya

ogah amat… :confuse:

Hanan Prasetya : mau nggak? kalo gak gw makan nih!

Samira Hasan : mau mau!! rakus.

Hanan Prasetya : sirik aja kalo gw demen makan.

Hanan Prasetya : mir, makasih ya

Samira Hasan : makasih buat apa? gw gak ngasih lu duit deh

perasaan. ada juga lu ngerampok coklat gw

Hanan Prasetya : aduhh, bisa nggak sih tu coklat dilupain bentar?

Samira Hasan : terus makasih buat apa?

Hanan Prasetya : pasti pura-pura bego lu ya? kumat. gw makasih

karena lu masih mau ngedengerin gw tadi.

Samira Hasan : loh, masa gw gak ngedengerin lu coba?gw kan gak

bawa penutup kuping? :p

Hanan Prasetya : SAMIRA!!!

Samira Hasan : hehehe, iya iya! gitu aja pake melankolik gini sih?

namanya juga temen sendiri, masa gak didenger?

biarpun lu sering banget ngejajah gw!

Hanan Prasetya : lu emang murah hati

Samira Hasan : lu ngambil snack gw lagi ya tadi?

Hanan Prasetya : kagak!! gw beneran memuji nih… gimana sih ni anak

satu!

Samira Hasan : ah, gak usah pake muji-muji. balikin aja snack yang

lu embat selama ini. dasar! gitu aja gak usah

dibahas panjang-panjang ah. Allah aja Maha Pemaaf,

apalagi gw yang cuma kaleng begini?!

Hasan Prasetya : kaleng rombeng lagi! :p

Samira Hasan : dikasih hati minta usus lu!

Hasan Prasetya : salah, gw pengen limpa tau.

Samira Hasan : eh,besok ke nasi bancakan yuk… gw udah lama gak

minum es cingcau disana.

Hasan Prasetya : alahh, es cingcau aja mah beli di pinggir jalan

aja.

Samira Hasan : suka gak bersih tau! Besok ya?

Hasan Prasetya : hooh dah, sekalian gw mau ngeceng ampe puas!

Samira Hasan : nah, gitu dong! lu traktir gw, gak mau tau. besok

gw gak akan bawa dompet.

Hasan Prasetya : iya, iya. besok ngantor nggak?

Samira Hasan : nggak ah, gw udah demen di tempat penitipan :D

Hasan Prasetya : ah…lu gitu deh! besok ngantor ya… temen2 udah

kangen sama lu

Hasan Prasetya : ya ya? ngantor ya?

Samira Hasan : gw masuk Sabtu aja ya? masih pengen maen-maen sama

anak-anak.

Hasan Prasetya : bener ya? Sabtu ya?

Samira Hasan : iya, iya! udah ah, gw mau tidur. pulau kapuk sudah

memanggil dari tadi. besok ya,lu mampir ke tempat

penitipan.

Hasan Prasetya : sip. babay vijay

Samira Hasan : babay vijay

Kalau Jodoh Nggak Kemana -part 8-

Posted by: Laila on: October 13, 2008

8

Samira

Tenangnya nggak harus menghadapi orang dewasa.

Tenangnya melihat wajah-wajah kecil dengan pipi merona karena gembira

Indahnya mendengar celotehan polos yang selalu ingin tahu

Bahagia sekali program detoksifikasi ini

Hanan

Aku membaca laporan perkembangan yang diketik rapi oleh Mira. Semua ada di folder yang dia berikan. Laporan keuangan, laporan hasil audit akuntan publik, kabar kemalingan kantor Tangerang, kabar kantor-kantor Jakarta bahkan sampai perkembangan bisnis software houseku di Surabaya.

Semuanya dia lakukan dalam waktu enam minggu. Padahal kalau aku yang mengerjakan, baru selesai dalam waktu dua bulan. Aku jadi nggak enak dengan Mira. Kali ini, aku keterlaluan menjajahnya. Pantas saja dia marah besar padaku. Aku memandang tembok di belakang kursi goyang kantorku, masih ada bekas air kopi disana. Grafiti kenangan saat Mira melempar gelas tepat ke belakang kepalaku. Rasanya, ini kali pertama sejak tiga tahun terakhir aku melihatnya begitu marah sampai lepas kendali.

Aku memang keterlaluan.

“Pak Hanan, Teh Mira sakit ya? Atau cuti?” tanya Agus dengan dialek sundanya yang kental. Aku nggak tahu apa yang terjadi selama enam minggu ‘kematianku’ di kantor ini, tapi yang jelas sepertinya Agus dan Susi, juga beberapa karyawan lain jadi mengidolakan Mira. Bahkan kemarin saat aku menelepon Pak Bagus, beliau juga bertanya soal Mira. Entah apa yang dilakukan gadis itu selama ini.

“Dua-duanya. Sakitnya udah sembuh, tapi dia minta cuti. Kenapa, kangen ya? Kirimin bunga aja, sana.”

“Habisnya nggak rame kalau nggak ada Teh Mira. Kadang kalau Teh Mira lembur, kami suka nonton film bareng. Filmnya Teh Mira bagus-bagus loh, Pak,” puji Agus.

“Mira suka lembur?” tanyaku heran. Dulu aja kalau kuminta dia bekerja satu jam lebih lama dari seharusnya, pasti dia udah ngedumel setengah mati. Bahkan, kalau moodnya sedang buruk, bisa nggak ngomong sampe besoknya. Apa Agus nggak salah liat ya? Jangan-jangan bukan Mira yang lembur, tapi…

yahhh aku nggak percaya kuntilanak sih.

“Iya, Pak. Waktu Bapak nggak masuk awal-awal itu, Teh Mira lembur terus. Kadang sampe jam sembilan malam, kadang lebih.”

“Cuma kamu sama Susi yang nemenin?”

“Ya nggak, kan ada Mang Dadang, ada supir-supir yang nggak narik, kadang Pak Bima juga suka nemenin. Kalau Teh Mira pulangnya kemaleman, dikawalin pulangnya sama Pak Bima.”

Aku mengangguk pelan. Jadi nggak enak sama orangtua Mira. Entah Mira ngasih tau ke mereka atau nggak penyebab dia harus sibuk di kantor, karena kalau mereka tahu akulah yang bikin anak mereka sakit, yang nyuruh anak mereka kerja rodi, mungkin aku nggak akan pernah bisa menginjakkan kaki di rumah Mira lagi.

Padahal, masakan Bundanya Mira enak banget.

Bodoh banget kamu Hanan!! Masih mikirin makanan aja.

Ini sudah batang rokok kelima yang aku hisap dalam dua jam ini. Tumben Bima terlambat, biasanya kan yang terkenal jam karet itu kalau nggak aku ya Dimas. Apa teman-temanku sekarang melancarkan aksi boikot padaku ya? Karena aku sudah bikin semaput satu-satunya perempuan di geng kami? Ah, inilah sulitnya kalau dalam satu kelompok ada perempuannya. Pasti ada jejaka-jejaka sok iye yang berusaha melindunginya.

Meski sama sekali nggak salah kalau mereka melindungi Mira, kan aku sudah menyiksanya. Agus benar, kalau nggak ada Mira, kantor nggak seru. Nggak ada yang bisa aku jahilin, nggak ada snack yang bisa aku colong, nggak ada temen adu mulut yang bawel. Mana berani karyawan-karyawan itu debat kusir denganku?? Mereka pasti lebih ingin menyelamatkan posisi mereka daripada berdebat kusir denganku.

Ini semua gara-gara Dika. Coba Dika nggak pulang ke Indonesia dan mengobrak-abrik hatiku sekali lagi.

Nggak, ini semua karena salahku sendiri!! Harusnya dari dulu aku menyerah saja soal Dika. Dika nggak akan pernah kembali ke pelukanku, kenapa juga aku masih berharap.

Aku yang bodoh.

Dan gara-gara kebodohanku, aku sudah merusak hubungan pertemanan.

Aku yang bodoh bukan kepalang.

Akhirnya batang hidung Bima keliatan juga. Tunggu dulu, kok ada batang-batang yang lainnya?! Baiklah, sepertinya hari ini aku akan babak belur. Karena Bima datang dengan pasukan lengkap, Dimas dan Noval. Noval pake bawa stick baseball segala lagi. Yah, Ibu, Bapak, maafkan anakmu ini ya. Mungkin besok aku udah nggak ada di dunia ini lagi.

“Ok, kalo kalian mau mukul gw, silahkan langsung mukul aja, nggak perlu basa-basi,” ujarku pasrah begitu mereka sampai pada jarak dengar suaraku.

“Siape yang mau mukulin lu?” tanya Noval sewot.

“Lah, itu stick baseball buat apa?”

“Iseng aja gw bawa dari mobilnya si Bima. Lu mau dipukul ya nanya-nanya gitu?” tanya Noval kejam. Diantara kami berempat, Noval yang paling kejam dan gahar. Sementara itu Dimas paling bijak, Bima paling murah hati, dan aku paling jahil. Karakter-karakter ini akhirnya dilengkapi Mira yang paling bawel dan kadang suka sok keibuan padahal aku yakin benar dia belum pernah melahirkan.

Aku bergidik membayangkan Noval akan memukulku. Dulu dia pernah sekali memukul cowok yang ngerebut pacarnya Dimas, meski kemudian dia terpaksa minta maaf juga karena kami dapat fakta baru kalau emang pacarnya Dimas itulah yang duluan ngajak tu cowok selingkuh. Dan percayalah padaku, nggak akan ada orang yang mau dipukul sama Noval.

“Nggak nanya kenapa gw bawa-bawa ni dua makhluk?” tanya Bima dengan sebelah alis terangkat.

Pastilah mau melabrakku, apalagi?!

“Paling mereka pengen ikut,” jawabku pelan. Sial, suaraku jadi kayak ayam kejepit begini.

“Ya, mereka emang pengen ikut. Pengen ngajarin lu dikit,” tegas Bima dengan nada tajam.

“Ok, langsung aja ke pokok permasalahan deh. Kalian mau marahin gw karena Mira sakit kan?” tanyaku tanpa tedeng aling-aling.

Noval tersenyum keji, “Nggak, kami kesini mau marahin lu karena lu paling cengeng di antara kita semua.”

“Cengeng apaan?!” nggak terima aku dibilang cengeng. Aku nggak nangis kok!

“Jelas lu cengeng, baru ditinggal Dika aja mendadak lu kayak nggak punya kehidupan. Dan gw nggak cuma ngomongin kejadian baru-baru ini, tapi kejadian beberapa tahun yang lalu. Dulu gw nggak banyak komentar, karena gw pikir wajar aja lu mau patah hati dan merana. Sekarang lu udah lebih gede, harusnya sikap lu lebih dewasa. Grow up, dude!!” jawab Noval lagi.

“Kalo lu mau cengeng, cengeng sendiri, jangan bikin susah orang. Di antara kita semua, yang paling lu bikin susah adalah Mira. Padahal lu tau dia cewek, nggak mikir apa?” Bima menambahkan dengan keras.

Sepertinya hari ini nggak ada yang bisa bijak dan bermurah hati padaku. Memang aku nggak pantas menerima perlakuan seistimewa itu.

“Gw nggak nyuruh dia ngeberesin kantor sampe segitunya, gw minta dia ngurusin hal-hal kecil aja. Toh gw nggak akan lama-lama kan berkabungnya?!” aku membela diri.

“Mana Mira tau kalau lu nggak bakalan lama-lama? Sejak Dika kembali aja lu udah mangkir dari urusan kantor. Pada saat yang sama, lu seharusnya menangani banyak hal. Lu bahkan bisa kehilangan bisnis lu di Surabaya kalau Mira nggak minta tolong Bima ngegantiin lu sementara. Kami nggak akan tahu gimana keuangan travel kalau Mira nggak berinisiatif nyewa akuntan publik mengaudit keuangan bisnis travel kita. Kantor-kantor Jakarta nggak akan pernah ketauan masalahnya kalau dia nggak ngecek sendiri kesana. Bahkan lu nyadar nggak sih, kalau batas pengembalian pinjaman uang ke Bank udah deket?! Nggak kan?” Dimas angkat bicara.

“Iya, iya, gw salah besar! Gw minta maaf.”

“Lu pikir ini cukup dengan kata maaf?” tanya Bima dengan ekspresi nggak percaya.

“Ya udah, kalau nggak cukup, gw keluar aja. Gw resign.”

“Lu bener-bener idiot ya! Nggak berkembang. Heran, kenapa Mira mau-maunya kerja bareng sama lu,” desis Noval tajam.

“Kami nggak pengen lu keluar, yang kami pengen lu ngerubah diri lu sendiri. Lu mikir, apa pantes laki-laki yang umurnya udah 25 kayak lu tapi masih nggak bisa ngatur hidupnya sendiri waktu patah hati?? Lu pikir cuma lu aja yang pernah patah hati?! Gw, Dimas, Noval, bahkan Mira, semuanya pernah patah hati. Sama parahnya sama lu. Sama frustasinya, tapi kami nggak jadi mayat hidup kayak lu,” Bima.

“Kalo lu mau minta maaf, minta maaf sama Mira, bukan sama kami. Dia yang pontang-panting ngeberesin kerjaan lu sampe bisnis software house lu di Surabaya. Dia yang ngehubungin klien lu satu-satu. Dia yang belajar semua hal tentang travel dari nol supaya bisa memback-up lu,” Noval.

“Tapi, yang penting bukan cuma itu, Nan. Kami semua pengen lu ngerubah pola pikir lu. Lu nggak bisa terus-terusan kayak gini setiap lu patah hati. Nggak semua orang kayak Mira, mau nolongin beresin kerusakan yang lu bikin sendiri. Lu harus beresin hidup lu sendiri,” Dimas.

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan. Ternyata dihakimi itu nggak enak sama sekali. Amat sangat nggak enak. Apalagi dihakimi karena kesalahan yang sudah kita sadari betul.

Samira

Aku menghempaskan badanku di sofa ruang tengah lalu merebahkan badan. Sebenernya Bunda paling nggak seneng kalau ada anaknya yang tidur-tiduran di sofa ruang tengah, karena sofa itu bukan tempat tidur. Kalau mau tiduran, harus gotong kasur kecil yang sengaja dibeli Bunda untuk tidur-tiduran di depan tv. Kasur yang selalu bikin aku berantem sama Bang Faiz. Kasur yang selalu bikin aku bertengkar sama Hanan waktu dia dulu masih suka nangkring di rumah, jaman kuliah dulu.

Hanan

Dua puluh menit yang lalu aku menerima sms permintaan maaf dari Hanan. Minta maaf kok lewat sms, gimana sih? lafian dia minta maaf untuk apa? Karena cengeng karena patah hati episode dua? Karena ninggalin kantor begitu lama dan melimpahkan pekerjaan seenaknya pada orang lain? Karena sudah nggak bertanggungjawab pada hidup dan pekerjaannya? Karena sudah bikin aku kemasukan setan dan marah-marah? Karena sudah bikin aku sakit dan nggak mau masuk kantor lagi sampai batas waktu yang aku sendiri nggak tahu kapan? Buat apa?!

Buzz…buzz

<1 message received>

Mir, gw minta maaf… masa sms gw nggak mau dibalas juga?

Sender : Hanan

Begitu membaca sms kedua dari Hanan ini aku jadi kesal. Enak aja dia minta maaf lewat sms, nggak mau! Lagian apa coba jaminannya dia udah bener-bener hidup? Jangan-jangan dia minta maaf cuma karena ingin minggat lagi kayak waktu itu. Pengen jadi mayat hidup lagi. OGAH!

<reply>

Gw nggak ada pulsa, masa mau balas sms lu?

Sender : Mira

<send>

<message delivered>

<1 message received>

lah, ini lu bs balas sms gw?

Sender : Hanan

<reply>

bayarnya make daun!

Sender : Mira

<send>

<message delivered>

<1 message received>

gw mau dong bayar sms pake daun…

Sender : Hanan

<reply>

sebodo

Sender : Mira

<send>

<message delivered>

Kalau Jodoh Nggak Kemana -part 7-

Posted by: Laila on: October 8, 2008

7

Samira

Aku, Bima, dan Syifa duduk bersama di warung kopi langgananku. Sudah sejak lama aku ingin duduk bersama dengan Syifa, mengenal calon istri Bima ini dengan lebih baik lagi. Tapi, aku terlalu sibuk mikirin keadaan Hanan yang mangkir dari kerjaan gara-gara sibuk kencan dengan Dika, sampai akhirnya aku sibuk ngurusin kerjaan Hanan yang dia telantarkan gara-gara hatinya patah lagi untuk kedua kali oleh Dika.

Benar kata orang, wanita emang racun dunia.

Dan cuma laki-laki yang bodoh karena mau minum racun itu.

“Lu kurusan, Mir,” kata Bima.

Gimana nggak kurus?! Tiap hari aku nenggak kopi lebih dari tiga gelas supaya tetep waras dan sekaligus mengalihkan pikiranku dari keinginan untuk marah-marah pada Hanan. Udah gitu aku sering melewatkan makan siang dan makan malam. Nggak sempet makan siang karena selalu adaaa aja yang harus aku urus. Nggak makan malam karena begitu nyampe rumah udah tewas kelelahan di tempat tidur. Kadang malah aku ketiduran di atas sajadah, udah nggak ada tenaga untuk pindah ke tempat tidur. Aku kan nggak biasa mengurusi urusan-urusan besar, sekalinya ngurus, bener-bener BESAR urusanku. Hah… .

“Udah ketemu sama Hanan belum?” tanyaku pasrah. Pasrah kalau Hanan akhirnya nggak mau balik kerja lagi.

Bima mengangguk pelan. Pasti kondisi Hanan kacau banget.

“Udah deh, nggak usah diceritain kondisinya gimana. Daripada gw ngamuk-ngamuk lagi. Urusan sama Pak Firdaus gimana?”

“Alhamdulillah lancar. Minggu depan gw mau ke Surabaya, ketemu sama Pak Firdaus.”

“Bagus deh. Fa, aku boleh konseling gratis nggak? Lama-lama bisa sakit jiwa nih. Biasanya hidupku santai-santai aja, sekarang malah ribet.”

“Jangan sampe stress aja, Mira. Kalau stress ya tambah runyem semuanya,” jawab Syifa tersenyum maklum. Pasti Bima sudah cerita semua tentang aku, Hanan, dan kondisi kami ke Syifa. Jadi dia nggak begitu kaget waktu ngeliatku lemah layu dan kadang-kadang ngomel soal Hanan.

Aku mendesah pelan. Cuma satu yang bisa bikin aku nggak stress.

“Aku kangen maen sama balita-balita. Kangen maen sama anak-anak. Kalau udah maen sama mereka, aku lupa sama semua permasalahan. Sekarang mana bisa minggat ke tempat penitipan anak?”

“Kalau dua minggu lagi Hanan masih gini-gini aja, gw labrak deh dia. Dulu sih dia patah hati nggak bikin susah orang. Sekarang nggak bisa seenaknya dong dia gini,” Bima menggeram marah.

Aku menyeruput kopiku pelan-pelan. Masih panas, tapi cukup bisa meredakan otakku yang mulai panas lagi. Setiap memikirkan Hanan, aku pasti mendadak pengen marah, pengen banting gelas, pengen ngegebrak meja, pengen nendang pintu, destruktif! Makanya, aku harus sering-sering nyari kesibukan dan apapun yang bisa menetralisir marahku. Nanti aja marahnya, kalau yang bikin masalah bener-bener ada di hadapanku dan nggak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.

“Ada rencana lain minggu-minggu ini, Mira?” tanya Syifa. Aku menatap Syifa dengan pandangan lelah. Lama-lama aku ngerti juga kenapa Bima berkeras ingin menikahi Syifa. Hanya dengan melihat Syifa aja, hati bisa jadi teduh. Syifa emang punya pembawaan yang tenang dan menenangkan. Bukan tenang dan bikin orang pengen ngegampar.

“Kayaknya aku mau ke Jakarta. Mau liat kondisi kantor-kantor disana. Udah lama juga Hanan nggak ngecek kesana. Terus kayaknya mau bikin janji sama kantor akuntan publik. Biar travel kita diaudit. Terus mau servis mobilku ah. Udah lama nggak diservis. Ntar mogok di jalan, baru mampus, nggak bisa kemana-mana.”

“Jaga kesehatan tuh. Perasaan dulu Hanan nggak sesibuk ini deh, Mir.”

“Hanan kan punya banyak waktu, dia santai. Gw nggak. Soalnya, begitu Hanan udah sembuh dari sakit jiwanya, udah bisa ngurus kantor lagi, gw nggak mau ngapa-ngapain. Gw mau cuti lama, mau total kerja di tempat penitipan anak. Ngebersihin jiwa gw. Jadi, gw beresin apa yang bisa gw beresin sekarang.”

Biar Hanan tau, dunia masih bisa jalan meski dia patah hati. Patah hati doang, cengeng! Cengengnya ngerusak semua yang udah dia usahakan lagi. Usaha travel ini kan bukan punya dia aja. Ada investasi kami berlima disini. Dasar nggak ada tanggung jawabnya.

Hanan

“Mau sampai kapan lu ngedekem gitu, heh?!!” maki Bima.

Aku nggak mengizinkan dia masuk untuk memakiku kan?! Kenapa sih dia? Mentang-mentang posisinya sudah aman, gadis pujaannya sudah masuk ke dalam pelukan. Cih.

“Lu liat si Mira. Pontang-panting dia ngurusin kerjaan lu. Lu tau nggak kantor Tangerang kebobolan maling? Mobil yang lu pesen udah dateng? Kantor-kantor Jakarta nggak pernah lu cek?? Lu nyadar nggak sih kalo lu udah kayak mayat? Bahkan mayat lebih bagus daripada lu. Mayat aja bisa bikin binatang di sekitarnya makan. Lu apa?!

“Kalau dalam dua minggu ini lu nggak balik kerja, nggak masuk kantor dan ngurus apa yang harusnya jadi urusan lu. Gw seret lu ke kantor, nggak mau tau gw! Begitu gw balik dari Surabaya ngurusin bisnis lu, gw bakal nyeret lu balik lagi kerja.”

Buat apa aku kerja kalau aku nggak punya Dika?!

2 minggu kemudian…

Samira

Aku jatuh sakit sekarang. Kecapekan dan makan nggak teratur. Bunda yang tadinya mau ngomel-ngomel memarahiku urung melaksanakan niatnya. Habisnya, begitu mau ngomel, Bunda ngeliat wajahku yang pucat dan badanku yang kurus, langsung ngerasa iba. Dua minggu terakhir ini sebenernya nggak terlalu banyak urusan kantor yang harus kuurus. Aku bisa makan enak, bisa santai-santai chatting dengan teman lama. Tapi, kata dokter, sakitku ini akumulasi dari yang kemarin-kemarin. Ditambah lagi kondisi tubuhku jadi memburuk karena kemarin aku bertemu Hanan. Jadi sebenernya, faktor psikislah yang membuatku sakit.

Tiga hari yang lalu Hanan datang ke kantor dengan tampang nggak karu-karuan. Wajahnya kotor, kayak orang nggak bercukur selama dua tahun dan tinggal di hutan pedalaman Kalimantan. Ekspresi wajahnya kuyu, sayu. Nggak ada semangat lagi di matanya. Jangankan semangat ngejahilin aku, semangat hidup aja nggak ada. Begitu dia masuk ke dalam ruangannya, aku segera menyusul, memberikan laporan perkembangan yang terjadi selama enam minggu ini padanya. Tapi boro-boro ditanggapi, dia malah duduk di kursi goyangnya dan menutup mata. Dan aku naik darah.

“Nan! Bangun woi!! Gw lagi ngasih laporan kerjaan ini, lu gimana sih?”

“Taro aja disitu, entar gw baca,” jawab Hanan malas-malasan. Tanggapan Hanan ini entah mengapa langsung membuatku naik darah dan langsung lepas kendali. Seperti kuda liar yang baru dilepas dari kandang, aku berteriak-teriak pada Hanan. Nggak terpikir sama sekali kalau seluruh kantor mendengar teriakanku itu.

“Banci lu! Nggak ada tanggung jawab! Daripada lu kayak gini, berhenti aja dari kantor. Minggat sana ke hutan, nangisin Dika aja terus disana!! Pengecut!! Nggak bisa ngadepin hidup. Manusia nggak guna!!”

Yang aku teriaki hanya menatapku tajam, lalu entah datang darimana kekuatan setan itu, aku membanting gelas kopi milik Hanan, tepat ke belakang kepalanya.

Kalau ingat kejadian itu, rasanya kepalaku jadi panas lagi. Di dunia ini bukan cuma Hanan aja yang patah hati, kenapa dia seolah-olah menganggap hanya dirinya lah yang menderita?! Kenapa dia nggak bisa menghadapi kenyataan?!

Hanan

Nggak bisa ngadepin hidup! Manusia nggak guna!

Mungkin Mira benar

Aku memang nggak guna

Samira

Bima, Dimas, Noval memenuhi kamarku. Aku bukannya nggak mau keluar kamar dan menemani mereka di ruang duduk, tapi aku malas bangun dari tempat tidur. Malas kemana-mana. Kemarin, waktu Syifa datang ke rumahku sendirian, dia bilang aku terkena stress akut, dan harus bisa menenangkan diri sebelum berubah jadi depresi. Nggak lucu banget, stress gara-gara mikirin makhluk bebal nggak ada guna yang udah kayak mayat macam Hanan. Aku paling nggak bisa liat ada orang cengeng kayak gitu. Aku pernah patah hati, Bima berkali-kali frustasi karena nggak diterima juga lamarannya sama Syifa meski akhirnya bahagia juga, Dimas patah hati berat waktu tau mantannya selingkuh sama temen sejurusannya, Noval juga pernah patah hati karena hubungannya dengan mantannya nggak disetujui orang tua sang mantan. Semua temen segeng pernah patah hati. Semuanya pernah berdarah-darah.

Tapi nggak ada satupun di antara kami yang seperti Hanan. Kami nggak jadi cengeng lalu menangisi hidup kayak besok kiamat. Kami tetap kerja, tetap kuliah, tetap ngumpul. Kami nggak buang-buang diri cuma gara-gara patah hati.

Apa yang punya otak cuma kami berempat?!

“Hanan nggak usah dipikirin, Mira. Nanti juga dia sembuh sendiri,” bujuk Dimas lembut.

“Ya udah, kalau gitu suruh dia semedi di gunung mana gitu sampe dia sembuh. Gw nggak mau ke kantor selama dia masih ada disana dengan wajah kayak orang mau mati besok,” gerutuku kesal.

“Udah, lu nggak usah ke kantor aja dulu. Ke tempat penitipan anak aja, katanya udah kangen kesana,” usul Bima.

Iya, aku sibuk di tempat penitipan anak aja. Main dengan anak-anak nggak akan bikin kepala panas. Setidaknya kalaupun anak-anak patah hati, besoknya mereka pasti sudah nemuin kecengan baru yang bisa diajak main ayunan.

“Hanan biar kami yang urusin deh. Pake cara cowok,” timpal Noval dengan senyum licik.

Mudah-mudahan cara cowok yang dimaksud adalah menghajar Hanan habis-habisan sampai babak belur. Kayaknya harus digituin dia biar bener-bener bangun dari fantasi menyedihkannya.

“Heeh. Gw nggak akan masuk kantor sampai Hanan sembuh. Kalo dia masih kayak gitu terus, gw cabut aja.”

“Jangan dong! Kinerja lu terpercaya, loh. Tadi gw mampir ke travel, Susi sama Agus udah nanyain lu,” protes Bima.

“Itu kan karena gw selalu beliin mereka makanan. Lu kagak tau aja mereka berdua gimana. Apalagi si Agus.”

Ketiga cowok yang memenuhi kamarku tertawa terbahak-bahak.

Memang sudah saatnya berhenti sejenak dan mengistirahatkan diri dan pikiran.


Kalau Jodoh Nggak Kemana -part 6-

Posted by: Laila on: October 8, 2008

6

Hanan

Malam ini aku mengajak Dika makan malam di sebuah restoran yang teletak di Dago atas yang memberikan pemandangan ke arah kota Bandung. Pemandangannya bagus sekali, terutama di malam hari. Malam yang spesial bersama orang yang spesial.

“Ya ampun, udah lama banget loh, Nan, aku nggak makan disini.”

“Ya iyalah, dua tahun kamu makan di Prancis mulu, mana mungkin bisa makan disini,” gurauku. Dika terkekeh geli lalu menyibakkan rambutnya. Rambutnya yang panjang dan hitam, sama seperti dulu.

Lama kami makan sambil bicara hal yang remeh, hal-hal kecil yang kami alami selama sembilan hari ini. Hal-hal yang membangkitkan kenangan masa lalu. Masa kuliah dulu. Dika terlihat sedikit menggigil karena udara malam yang memang agak lebih dingin.

“Nih, pake aja jaketku,” kataku langsung menyampirkan jaketku di bahunya. Lalu, entah terbawa suasana, entah apa, aku menggenggam kedua tangan Dika.

“Hanan…”

“Ka, aku masih sayang sama kamu,” kataku pelan.

Dika menatap tanganku yang menggenggam erat tangannya. Rasanya isi hatiku tumpah ruah sekarang. Sudah dua tahun kami putus, tapi sampai sekarang aku masih belum bisa melupakan Dika. Sama sekali nggak bisa. Dika begitu berarti dalam hidupku, dan kekosongan yang dia ciptakan saat kami putus dulu, nggak akan pernah bisa terganti dengan siapapun, dengan apapun.

“Nan, kamu tahu kan kalau aku nggak bisa dengan hubungan kita. Aku nggak akan pernah bisa mengarah kemana-mana,” akhirnya Dika memecah kebisuan di antara kami.

“Aku…aku mau hubungan jenis apapun, Ka. Bahkan kalau itu nggak mengarah kemana-mana. Asalkan ada kamu, kita berdua, aku nggak peduli.”

Ya, aku emang nggak peduli kalau ternyata sampai mati pun aku nggak akan menikah dengan Dika. Asal bersama Dika, sudah cukup.

“Nan, tapi suatu saat nanti kamu pasti minta lebih, dan aku nggak akan pernah bisa ngasih apa yang kamu mau.”

“Aku nggak akan minta lebih, Ka. Nggak akan. Aku cuma mau ada kamu, cukup.”

“Suatu saat nanti, itu nggak akan cukup.”

“Cukup, Ka,” aku berkeras.

Dika menggeleng lemah.

“Nan, aku nggak akan pernah bisa nikah sama kamu, nggak akan juga ngasih kamu keturunan. Suatu saat itu nggak akan cukup buat kamu. Lagipula, apa keluarga kamu mau kamu cuma hidup bersama denganku tanpa terikat apapun?”

“Aku bisa ikut kamu ke Prancis, aku bisa merintis karir disana. Keluargaku nggak terlalu masalah. Ini kan hidupku.”

“Nggak, Nan. Nggak. Aku nggak bisa kalau kamu sampai membuang keluargamu. Kita emang nggak bisa bareng. Tolong mengerti.”

“Tapi Ka, aku cinta sama kamu.”

“Aku juga, tapi kita nggak bisa begini terus. Kamu yang nggak akan bisa dengan keadaan seperti ini terus menerus.”

“Ka, please..”

“Nan, kita emang nggak bisa lebih jauh daripada ini.”

“Ya udah, kita kayak gini aja terus.”

“Nggak, Nan. Aku tau kamu akan minta lebih suatu saat nanti.”

Dika menarik tangannya yang tadi kugenggam. Aku mengepalkan tangan. Kenapa nasib nggak adil padaku?! Aku mencintai Dika, mengapa kami nggak bisa bersatu?! Salahku apa?!!!

“Kita pulang ya Nan. Aku mesti siap-siap berangkat.”

Aku menatap Dika kaget. Bukannya dia akan pulang 3 hari lagi?

“Aku berangkat besok, profesorku minta aku segera pulang,” kata Dika seperti bisa menebak kekagetanku.

“Ka, please Ka. Aku cinta sama kamu.”

“Nan, kamu akan menemukan orang yang jauh lebih baik dari aku.”

“Nggak ada yang lebih baik dari kamu, Ka.”

“Nan, tolong jangan bikin keadaan jadi lebih sulit. Aku justru pulang ke Indonesia untuk memastikan bahwa kita nggak akan pernah bisa bareng lagi.”

Aku diam mematung. Apa?! Jadi untuk apa kebersamaan selama sembilan hari ini?! Dika bangkit dari duduknya dan memandangku dengan matanya yang sayu.

“Kita nggak akan pernah bisa bareng lagi, Nan. Sekarang, kamu mau anterin aku pulang atau aku pulang naik taksi aja,” katanya tegas.

“Aku anter kamu,” jawabku dengan rahang tertutup rapat.

Samira

Lengkap sudah penderitaanku!! Ramalan Bima beneran terjadi, Hanan patah hati. Rasanya aku ingin datang ke hadapan Dika, lalu menggampar perempuan itu. Mungkin kalau ini jaman kuliah dulu, aku sudah pasti melakukan hal itu. Tapi, sekarang nggak. Aku nggak akan melakukan hal bodoh gitu, kecuali membayangkannya dalam pikiranku saja. Hanan nggak muncul juga batang hidungnya sudah dua hari ini. Padahal dia janji akan membereskan urusannya dengan rekanan bisnisnya. Dan sudah dua hari ini aku terpaksa minta maaf pada semua rekan-rekannya karena Hanan nggak bisa menghubungi mereka, dengan alasan Hanan sakit.

SAKIT JIWA

Kadang aku merasa beruntung dilahirkan menjadi perempuan. Karena perempuan nggak akan sampai gila begini kalau patah hati. Kecuali memang dari awal si perempuan itu sudah gila. Dulu, saat aku patah hati putus dengan Aziz, meskipun alasannya jelas-jelas baik dan menyelamatkan kami berdua dari api neraka, aku nggak sampai menelantarkan pekerjaanku. Iya, aku nangis semalam suntuk dan membasahi bantal, boneka, sajadah, guling, seprei, apapun yang terkena linangan air mataku. Tapi hanya itu. Hanya tangisan.

Karena pada saat yang sama aku mengerti, bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah. Jadi nggak ada tempat lain untuk aku curhat, memohon, meminta, pasrah, selain sama Allah. Dari situlah aku bisa belajar kuat, bisa belajar ikhlas, bahkan ketika mendengar kabar Aziz menikah.

Ya Allah, aku memang sebal setengah mati dengan Hanan karena dia selalu menjajahku, tapi tolong lapangkanlah dadanya, bukakan pintu hatinya. Jangan biarkan dia sia-siakan hidupnya karena hal nggak penting-penting amat ini. Lapangkan hatiku juga, Rabb, biar aku nggak banyak mengeluh ngurusin bisnis travel dan menghadapi rekanan bisnis Hanan.

Hanan

Aku hanya menginginkan Dika dalam hidupku, menghabiskan sisa hidupku dengannya. Apa itu salah, Tuhan?!

Samira

“Mbak Mira, ini Pak Firdaus nelepon lagi,” kata Susi lagi. Aduh…Pak Firdaus ini kok demen banget ya nelepon. Apa naksir aku atau gimana sebenernya?

“Assalamualaikum, Pak.”

“Waalaikumsalam. Aduh, Bu, maaf saya jadi mengganggu. Pak Hanan masih sakit ya?”

“Iya, Pak. Menurut dokter, dia butuh istirahat yang agak panjang.”

Mengistirahatkan hatinya tuh, sama mereset isi kepalanya biar bisa hidup lagi. Sekarang dia udah kayak zombi, Pak!

“Saya juga bingung nih. Begini loh, saya bener-bener harus segera membicarakan masalah software housenya. Gimana ya?”

Egh…aku lulusan farmasi, Pak. Yang kutahu hanya soal dosis obat dan kawan-kawannya, bukan soal programming. Tunggu dulu, Bima kan sama-sama anak informatika juga. Mungkin Bima bisa bantu deh, apalagi setauku Bima pernah cerita kalau Hanan selalu cerita soal rencananya membuka software house padanya.

“Oh gini aja, Pak. Pak Hanan punya kerabat yang mengerti soal beginian. Saya kan nggak ngerti, Pak. Daripada nggak jadi-jadi bisnis Bapak, bagaimana kalau Bapak bicarakan saja dengan kerabatnya Pak Hanan? Nanti saya hubungi dulu beliau, terus saya langsung berikan saja nomor Bapak ya. Bagaimana?”

“Wah, begitu saja Bu. Kerabatnya ini terpercaya kan?”

“Terpercaya kok Pak. Temen kuliah saya juga dulu. Nanti ditunggu saja ya, Pak. Sekali lagi saya mohon maaf karena Pak Hanan belum bisa menghubungi Bapak.”

“Iya, nggak apa-apa kok. Toh Pak Hanan kan sakit. Terima kasih, Bu Mira. Saya tunggu ya.”

“Baik, Pak. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Begitu sambungan telepon terputus, aku langsung menghubungi Bima.

“Assalamualaikum. Bim, ini Mira.”

“Waalaikumsalam. Kenapa, Mir? Kok kayak buru-buru gitu?”

“Bim, lu tau kan rencananya Hanan buka software house di Surabaya?” tanyaku memastikan.

“Iya tau. Kenapa emang?”

“Kliennya terus-terusan nelepon. Kayaknya mau ngebahas sesuatu yang penting. Gw kan nggak ngerti, bisa nggak lu tangani? Sampai si Hanan hidup lagi deh. Kasian juga tuh Bapak nelepon terus.”

“Ya udah, sini gw follow up. Mana nomor teleponnya?”

Aku menyebutkan sederet angka dan meminta Bima mengulangi, supaya nggak salah.

“Namanya Pak Firdaus. Tolong beresin dulu ya. Kalau bisa semua perkembangannya didokumentasikan. Diketik rapi. Biar nanti bisa ditelusuri udah sejauh mana.”

“Iya, iya. Keluar deh melankoliknya. Gw hubungi sekarang deh. Jangan lupa makan siang, Mir.”

“Sip. Ya udah ya, Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Baru saja aku menarik napas lega karena satu masalah selesai, Susi sudah menjawil bahuku dan bilang ada telepon dari kantor cabang Tangerang. Ampun!

“Halo, Assalamualaikum. Ini dengan Pak Bagus ya? Saya Mira, ada apa, Pak?”

“Mbak Mira, kantor kemalingan, Mbak.”

“APA?!! Kok bisa? Kapan?”

“Baru semalam kejadiannya.”

“Ya udah, saya kesana sekarang.”

Aku meletakkan horn telepon dan segera berlari mengambil tas di loker.

“Sus, aku pergi ke Tangerang ya. Kalau ada apa-apa, kamu catat aja dulu, kecuali kalau penting banget, langsung telepon ke ponselku.”

“Iya, Mbak. Hati-hati di jalan.”

Semua milik Allah akan kembali pada Allah

Pak Bagus menjelaskan padaku dengan terbata-bata. Uang sekitar seratus juta raib dari brangkas kantor. Menurut Pak Bagus, tadi malam satpam dan beberapa karyawan yang menginap memang mendengar ada suara-suara di dekat ruangan beliau, tapi mereka baru sadar ada yang memasuki ruangan setelah orang itu berhasil kabur sambil membawa serta uang seratus juta.

“Pak, ini bukan kerjaan orang dalam kan?”

Pak Bagus menggeleng yakin.

“Nggak Mbak. Saya yakin.”

“Nggak ada karyawan yang lagi butuh uang kan?”

“Nggak Mbak. Kan Pak Hanan sudah bilang, kalau ada karyawan yang benar-benar butuh, untuk biaya rumah sakit, boleh dipinjamkan dulu dari kas kantor. Setau saya nggak ada, Mbak.”

“Maaf, Pak. Tapi, Bapak juga tidak sedang dalam masalah keuangan kan?”

“Nggak Mbak.”

“Maaf saya curiga, soalnya akhir-akhir ini maling itu biasanya orang dalam.”

“Nggak apa-apa kok, Mbak. Saya juga tadinya curiga orang dalam, tapi mudah-mudahan sih bukan. Soalnya semua karyawan sampai supir kalau memang butuh uang, pasti dipinjamkan kok. Pak Hanan sendiri yang bilang begitu.”

“Iya, saya tahu. Ya sudah, Pak. Polisi tau?”

“Belum. Dulu Pak Hanan pernah bilang, kalau ada apa-apa, kecuali parah sekali, jangan lapor polisi. Bikin repot.”

“Iya, bener. Ya udah, Pak. Begini saja, lain kali, uang sebesar apapun, jangan lagi disimpan di brankas. Langsung disetor ke bank aja. kalaupun terpaksa disimpan di brankas, brankasnya di dobel aja. Nanti tolong beli yang besar satu, sama yang kecil satu. Kan nggak mungkin malingnya bawa lari brankas segede kulkas? Dan kalau dia niat mau maling, pasti butuh waktu lama ngebongkar brankasnya.”

Pak Bagus mengangguk setuju.

“Ya sudah, saya harus segera kembali ke Bandung. Tolong kasih penjelasan pada temen-temen karyawan ya, Pak. Sekalian, tolong ditegaskan lagi kalau karyawan berhak mendapatkan pinjaman uang kalau memang benar-benar membutuhkan. Jadi, jangan segan-segan mengajukan pinjaman. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya ya.”

“Baik, Mbak. Ngomong-ngomong, Pak Hanan masih sakit?”

Aku menghela napas lelah. Sampai kapan lagi aku harus berbohong pada orang-orang. Memang sih, Hanan sakit hati, tapi kan orang-orang mikirnya dia sakit fisik.

“Iya, Pak. Doakan saja supaya segera sembuh. Nampaknya butuh istirahat lama.”

“Tolong sampaikan salam saya untuk Pak Hanan ya.”

“Sip. Pamit dulu ya, Pak.”

“Hati-hati di jalan, Mbak.”

Mbak Mira, tadi orang dealer nelepon. Katanya dua unit mobil yang dipesan Pak Hanan sudah datang dan mau diantar besok.

Sender : Susi-travel

<reply>

Makasih Sus udah ngasih tau ;)

Sender : Mira

<send>

<message received>

Kalau Jodoh Nggak Kemana -part 5-

Posted by: Laila on: October 8, 2008

5

Hanan

Semibilan hari terakhir ini bisa dibilang hari-hari yang paling bahagia dalam hidupku. Gimana nggak? Tiap hari jalan sama Dika. Bahkan Dika mau-mau aja tuh kuajak nongkrong di Bogor, main ke Puncak, ke Lembang. Pokoknya jalan kemanapun deh. Rasanya kayak jaman dulu lagi, waktu masih jadian dulu.

“Nan, hari ini jadi nggak nemenin aku ke outlet?” tanya Dika di telepon tadi.

“Oh, jadi dong. Masa nggak. Aku jemput di rumah ya.”

“Ok.”

Meskipun aku paling benci nemenin perempuan belanja, apalagi belanja baju. Demi Dika, aku rela deh.

Berangkat!!

Samira

Berbunga-bunga sih berbunga-bunga, tapi jangan bikin orang susah dong. Enak aja Hanan ninggalin urusan kantor ke tanganku semua. Jadi aja aku udah seminggu nggak datang ke tempat penitipan anak. Kan nggak enak sama temenku disana. Si Hanan ini gimana sih, sibuk aja dia pacaran terus, kantor seenaknya ditinggalin. Bikin pusing aja.

“Mbak Mira, ada telepon dari Pak Firdaus,” Susi menyerahkan horn telepon ke tanganku.

Pak Firdaus?! Siapa nih??

“Assalamualaikum,” sapaku bingung.

“Waalaikumsalam. Ini dengan Bu Mira?”

“Iya betul. Maaf Pak, tapi Bapak darimana ya?”

“Saya rekanan bisnis Pak Hanan dari Surabaya, Bu. Pak Hanan kemana ya sebenernya? Saya udah berkali-kali menghubungi kok nggak ada jawaban.”

Sibuk pacaran, Pak! Bapak datang aja langsung ke rumahnya, terus pentungin pake tongkat satpam! Kali aja bisa waras dan mau ngurus kerjaan lagi.

“Pak Hanan sedang pergi ke luar kota, Pak. Saya sendiri kurang tahu urusannya apa. Kalau saya boleh tahu, Bapak ada keperluan mendesak dengan Pak Hanan?”

“Sebenarnya saya mau melanjutkan pembicaraan kami tentang rumah software yang akan kami dirikan di Surabaya. Cuma ya itu tadi, Pak Hanan susah dihubungi.”

Erghh si Hanan ini ya, bener-bener minta dipentung kepalanya. Pake dahan pohon beringin!

“Aduh, maaf sekali ya Pak. Begini saja, saya akan segera memberitahu Pak Hanan untuk menghubungi Bapak kembali. Mudah-mudahan segera ditanggapi ya, Pak.”

“Iya, baik. Makasih ya Bu Mira.”

“Sama-sama, Pak.”

Aku meletakkan horn telepon kembali ke tempatnya. Hanan udah keterlaluan. CLBK sih CLBK, tapi kerjaan juga diurus dong. Lah kalau masih urusan travel yang kecil-kecil bisa kutangani, kalau urusan yang besar? Kalau urusan yang bukan urusanku?! Gimana sih dia?!!

Hanan

Dika sedang asyik memilih-milih baju saat ponselku berdering keras tak henti-henti meski sudah kureject beberapa kali. Siapa sih yang ngeganggu keasyikanku sekarang?? Nggak tau apa kalau ini kesempatan langka?

Mira is calling

Euh, anak ini kenapa sih?! Nggak bisa liat orang senang apa? Heran.

“Halo,” sapaku ketus.

“Eh kutu kupret! Kapan lu mau masuk kerja?” damprat Mira.

“Minggu depan juga gw bakalan masuk kantor lagi. Gimana sih? Udah ah jangan ngeganggu gw,” jawabku ketus lalu memutuskan sambungan telepon.

“Siapa, Nan?”

“Mira. Biasa, urusan kantor.”

“Kamu nggak apa-apa nggak masuk kantor?”

“Nggak apa-apa kok. Lagian aku udah lama nggak ngambil cuti. Buat apa juga ada Mira?”

“Ok,” timpal Dika dengan senyum manisnya.

Kring Kring

Mira is calling

Aku berjalan ke luar outlet dan mengambil sudut aman untuk mendamprat Mira. Awas ya anak ini.

“Kenapa lagi Mir?!” tanyaku benar-benar kesal sekarang. Sudah kubilang aku nggak mau diganggu gugat selama dua minggu ini, dan kalau memang ada urusan penting, hubungi aku lewat sms aja. Nggak ngerti Bahasa Indonesia ya dia?!

“Lu ya!! Tau nggak udah dua hari ini rekanan bisnis lu pada neleponin ke kantor?! Mikir dong dikit, gw yang ketiban bingung. Kalo urusan travel sih nggak ada masalah, ini urusan software lah, apalah. Gw nggak ngerti bisnis lu apa aja, jangan semuanya dialihkan ke gw dong.”

“Kan bisa lu bilang kalo gw bakalan menghubungi mereka balik. Gimana sih?!”

“Gw udah bilang kayak gitu, tomat!! Tapi mereka nelepon balik, katanya penting banget. Lu serius nggak sih ama kerjaan lu?”

“Serius nggak serius itu urusan gw, tau!!”

“Emang urusan lu! Tapi, jangan dilimpahkan ke gw dong kalo lu lagi nggak mau ngurus! Gw nggak ngerti, sapi!! Pokoknya gw nggak mau tau. Besok kalo mereka masih nelepon karena lu nggak balik ngehubungin mereka, gw bilang lu sibuk pacaran sama mantan! Biarin aja. Heran, mantan balik, bukannya tambah semangat kerja, malah tambah ngaco! Nggak waras, lu!”

Tut..tut..

Rasanya mau kubanting ponselku ini. Urusanku dong mau sibuk pacaran sama mantan, mau jalan-jalan sama mantan, mau nostalgia sama mantan. Bukan urusan Mira sama sekali! Untung dia perempuan, kalau laki-laki udah kuhajar begitu bertatap muka.

Samira

Kopi yang sudah sejam lalu kupesan masih belum kuminum. Kepalaku masih kusandarkan ke atas meja, berusaha menenangkan diri. Untung saja Bima juga nggak ikut-ikutan ngoceh, ngerti dia kalau aku butuh waktu untuk meredam amarahku pada Hanan.

Hanan bener-bener keterlaluan. Aku nggak ngerti jalan pikirannya. Ok, emang dia masih cinta mati sama mantannya. Ok, ini pertama kali mereka ketemu setelah lulus kuliah. Ok, Dika emang cuma ada dua minggu di Indonesia dan Hanan nggak mau melewatkan kesempatan berharga seperti ini. Aku ngerti kok. Tapi nggak kayak begini dong caranya. Nggak dengan meninggalkan pekerjaan, menelantarkan bisnis yang sedang dirintis. Keberadaan orang yang kita cintai harusnya bikin kita tambah produktif kan? Bukannya tambah ngaco dan nggak waras kayak begini.

“Hanan lagi berbunga-bunga, Mir. Sabar aja.”

“Gw nggak peduli dia berbunga-bunga apa nggak, Bim. Serius. Selama dia masih bisa bekerja dengan baik, produktif, gw nggak ada masalah. Sekarang kan dia nelantarin semuanya. Terus dilimpahin ke gw yang nggak ngerti apa-apa. Gw kan nggak enak kalau nerima telepon dari rekanan bisnis dia.

“Gw ngerti kok Bim kalau dia masih cinta mati sama Dika. Siapa sih yang nggak tau? Nggak ada yang ngelarang dia cinta mati kok. Asal dia masih profesional. Asal dia tetep bertanggungjawab. Gw malah bersyukur kalau dia jatuh cinta, berarti dia nggak ngejajah gw. Tapi, kalau kayak gini keadaannya, mendingan dia ngejajah gw tiap hari tapi kerjaannya beres.”

Aku menyeruput kopiku yang sudah mendingin. Nggak terlalu enak, tapi sayang kalau dibuang dan minta ganti yang baru. Ugh, urusan dengan Hanan ini bener-bener membuatku geram. Nggak lagi jatuh cinta dia bikin sebel, jatuh cinta bikin dosa orang aja. Udah berapa kali aku memaki-maki dalam 9 hari ini?? Mbok ya mikir make otak kenapa sih?!

“Hanan emang kayak gini kalo jatuh cinta. Suka lupa sama yang lain. Yang gw khawatirkan justru kalau dia patah hati,” kata Bima pelan-pelan. Bima emang deket dengan Hanan, dan diantara kami berlima, cuma Bima yang ngerti betul urusan cintanya Hanan.

“Kalo dia patah hati kenapa? Bunuh diri??” tanyaku ketus.

Mendingan dia bunuh diri deh terus selesai masalahnya di dunia, daripada nyusahin orang kayak gini. Bukannya nggak mau disusahin, tapi nyusahinnya nggak pake bilang dulu, nggak pake penjelasan yang bener. Kalo dijelasin dari awal apa aja yang harus aku tangani selama liburannya dia dengan Dika, kan aku nggak kalang kabut kayak gini.

“Lu nggak tau sih kejadian waktu dia putus sama Dika. Sebulan dia nggak masuk kuliah, ngedekem di rumah. Mana waktu itu harus tugas akhir, harus nyiapin program. Untung pembimbing kami baik, Mir. Itupun setelah gw dengan terpaksa cerita kalau Hanan patah hati. Gw khawatir dia patah hati lagi sekarang.”

“Emang dia diapain sih sama Dika waktu itu?”

“Dika mutusin dia karena Dika pengen konsentrasi ke sekolah dan karirnya. Dia nggak bisa ngejamin apakah dia bakalan bener mau nikah sama Hanan apa nggak. Padahal Hanan udah serius banget sama dia.”

“Jangan bilang sekarang Hanan nganggep ada kesempatan untuk balikan lagi sama Dika?”

“Mungkin. Mungkin dia gambling dengan keputusan Dika. Mungkin dia segitu putus asanya jatuh cinta dengan Dika sampai bakalan nerima kalau hubungan mereka nggak akan pernah mengarah kemana-mana.”

Aku menggelengkan kepala nggak percaya. Nggak percaya kalau Hanan akan segitu bodohnya. Ok, mungkin beberapa orang bakalan menganggap Hanan ini tipe setia, romantis, apalah gitu. Masih cinta sama Dika padahal Dika mendepaknya demi karir. Tapi, menurutku tetep aja nggak realistis. Perempuan yang sudah mendepak seorang lelaki demi karir, rasanya nggak mungkin kembali lagi ke pelukan lelaki itu dengan begitu mudahnya. Jatuh ke pelukan lelaki lain, mungkin. Mungkin ada lelaki lain yang pada akhirnya menyadarkannya kalau karir bukanlah segalanya dalam hidup. Tapi pada lelaki yang sama?? Not gonna happen.

Ah, sudahlah. Urusan cintanya Hanan bukan urusanku sama sekali. Mau dia jatuh cinta kek, mau dia patah hati kek. Asalkan urusan kerjaannya beres, aku nggak peduli. Awas aja kalau sampai bener kata Bima tadi, dia patah hati dan semua urusan terbengkalai. Aku nggak akan tinggal diam. Perang dunia, perang dunia deh.

Kalau Jodoh Nggak Kemana -part 4-

Posted by: Laila on: October 8, 2008

4

Hanan

Gara-gara kopi maut buatan Mira kemarin itu, aku jadi agak was-was tiap mau minum kopi. Apalagi kalau kopi di kantor. Sekarang aku membuat peraturan baru, Mang Dadang hanya boleh menyediakan kopi buatku setelah aku datang. Bukan sebelumnya. Bisa aja kan si Mira ngambil kesempatan lagi dan menyiksaku habis-habisan. Keterlaluan emang dia. Nggak sopan. Awas aja, nanti kubalas dia.

Kring Kring

Duh, ini siapa lagi nelepon? Nomornya nggak kukenal lagi.

Kring Kring

“Halo,” sapaku malas-malasan.

“Hai, Nan. Ini Dika.”

HA??? Dika?!!

Aku mendadak berdiri dan tepat pada saat itu juga lututku terantuk meja nakas tempat tidurku. Sial.

“Aduh… eh Dika? Kamu ada di Indonesia?”

“Lagi pulang sebentar, Nan. Gimana kabar kamu?”

“Baik, baik. Kamu?”

“Aku juga baik. Sibuk ngapain aja sekarang?”

“Yah, gitu-gitu aja sih Ka. Kamu sampai kapan di Bandung?”

“Dua mingguan kok, ketemuan yuk? Aku udah lama nggak ngobrol sama kamu.”

“Ayo ayo. Besok kamu bisa?”

“Bisa. Sore ya?”

“Iya. Nanti aku telepon kamu lagi deh.”

“Ok. Dah Hanan.”

“Dah Dika.”

Dika…

Dika…

Dika kembali ke Indonesia!! Cihuy! Emang sih cuma dua minggu, tapi kan tetep aja, dia pulang ke Indonesia. Oh, Dika.

Samira

Hanan aneh deh hari ini. Biasanya begitu datang ke kantor, urusan pertama yang harus dia bereskan adalah ngerjain aku dulu. Sekarang dia langsung ngeloyor masuk ke ruangannya sambil siul-siul nggak jelas. Nggak jelas lagu yang disiulin apa maksudnya. Mungkin dia sekarang melihara burung, makanya dia siul-siul manggil burungnya supaya datang.

Udah gitu, waktu istirahat siang aku ngecek isi lokerku, ternyata snack yang baru kubeli tadi pagi masih tetap berada di tempatnya! Biasanya kan udah raib atau tiba-tiba cuma tinggal bungkusnya aja. Aneh, Hanan beneran aneh. Apa dia insyaf gara-gara kejadian kopi waktu itu ya??

Wah, manjur amat rencanaku waktu itu.

Hanan

I won’t hesitate, no more, no more. It can not wait, I’m yours…

Ketemu Dika…oh ketemu Dika. Mantanku yang cantik itu. Selama dua tahun ini aku hanya bertukar kabar via email dan chatting dengan Dika, beda banget kan kalau ketemu langsung. Pasti dia tambah cantik. Belajar di negeri orang yang udaranya bersih pasti bikin kulitnya tambah mulus, tambah seger. Dika….

Dika selalu jadi penyegar dalam hidupku sejak dulu. Dia yang sedikit ambisius terhadap segala aspek dalam hidupnya bikin aku juga lebih bersemangat dalam melakukan pekerjaanku. Entah belajar untuk ujian, ngerjain tugas dosen, ngerjain proyek dosen. Dika juga selalu manis. Manis kalau aku lagi bau amis, lagi sedih, lagi bete.

Ah, jadi melankolis begini. Pokoknya ketemu sama Dika sore ini,

dan selama dua minggu berikutnya. Yiihaa!

Aku mencari nomor yang Dika gunakan semalam untuk meneleponku, lalu menghubungi nomor itu.

“Halo, Nan,” suara Dika terdengar merdu di seberang sana.

“Ka, mau aku jemput atau gimana?”

Please bilang kalau aku jemput kamu aja…

“Duh, aku masih ada di Ciwalk nih. Apa mau ketemu disini aja?”

Oh…yah, pulangnya aja deh kuantar.

“Boleh, mau ketemu dimana?”

“Gimana kalo sekalian makan sore di Gokkana Teppan?”

Masakan jepang, Dika selalu suka masakan jepang.

“Boleh, boleh. Nanti kalo aku udah nyampe kesana, aku telepon kamu lagi ya.”

“Ok, hati-hati di jalan ya.”

Tentu saja, masa aku bakal bunuh diri sebelum ketemu sama kamu?? Yang bener aja.

Samira

“Mir, gw pergi dulu ye,” Hanan sumringah pamit padaku. Ini lagi, aneh banget. Sejak kapan dia pake pamitan segala?! Biasanya maen selonong aja, malah pake ngembat mobil lagi. Apa kepalanya kebentur tembok ya? Atau kejatuhan dahan pohon? Angin kan agak-agak kencang akhir-akhir ini.

“Pergi aja sana. Tumben mau pamit. Mau ngambil mobil gw ya?” tanyaku curiga. Mungkin dia kapok karena keseringan ngembat mobilku tanpa bilang-bilang dulu.

“Nggak dong, gw sekarang bawa mobil sendiri. Udah ah, gw mau pergi kencan. Dadah babay!!”

Dadah babay?!!!

Kencan?!!

Kencan sama siapa dia??

Begitu Hanan keluar dari kantor, aku segera menelepon Bima. Biasanya Bima tahu informasi terkini dan aktual soal temen-temen segeng.

“Bim, si Hanan lagi pedekate ama siapa?!” tanyaku tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Sangking semangatnya pengen tahu kenapa si Hanan nggak waras begitu.

“Mantannya balik dari Prancis,” jawab Bima kalem.

Oh…ada Dika toh.

“Pantesan dia kayak baru menang lotere gitu. Senyum-senyum sok cakep. Masih ngarep balikan sama Dika ya dia?”

“Kayaknya sih gitu.”

“Oh… ya udah deh. Kayaknya selama ada Dika, gw bakalan selamat dari kezaliman Hanan. Bagus buat gw lah.”

“Anggap aja gencatan senjata.”

“Hooh. Ya udah deh, makasih ya atas infonya. Lu lagi dimana ngomong-ngomong?”

“Atap kantor,” jawab Bima pelan.

Ya ampun, gara-gara terlalu antusias dengan perubahan mendadak Hanan, aku jadi nggak ngeh kalau Bima kayaknya lagi stress. Pasti gara-gara masalah yang satu itu.

“Mikirin Syifa lagi?”

“Iya.”

“Ditolak lagi?”

“Nggak dikasih jawaban lagi. Gw kurang apa coba, Mir?”

Aku diam sejenak. Sebenernya sudah lama aku ingin mengeluarkan teoriku kenapa Syifa nggak kunjung memberikan jawaban atas pinangannya Bima. Tapi, nanti aku dibilang sok tahu, sok alim.

“Lu kurang shaleh kali, Bim,” jawabku setengah bercanda. Sebenernya jawabanku itu adalah pembuka dari teoriku kenapa Bima nggak diterima juga sama Syifa. Cuma, kalau aku lanjutin, ntar dia frustasi dan ngamuk-ngamuk lagi. Bingung jadinya.

“Ah, bingung lah gw. Ya udah deh, gw mau balik sekarang.”

“Iye iye. Hati-hati di jalan, jangan ngelamun. Ketabrak, modar lu!”

“Iya bawel! Udah ah. Jangan gangguin si Hanan, dia lagi berbunga-bunga tuh.”

“Lagi berbangkai-bangkai juga nggak demen gw gangguin dia. Yuk ah. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Hanan

Begitu aku masuk ke dalam restoran jepang yang Dika masuk, aku langsung bersyukur Dika memilih duduk di sudut ruangan, area untuk merokok pula. Yes Yes! Emang Dika paling ngerti aku. Tuh kan, Dika jadi jauh lebih cantik. Jauh sekali, sampai kayaknya aku ngeliat ada sinar-sinar gitu di sekeliling tubuhnya.

Oh, itu ternyata pendaran sinar lampu.

Apapun deh, pokoknya gadisku ini makin cantik… .

“Dika,” sapaku sumringah. Mudah-mudahan nggak keliatan kayak om-om hidung belang yang baru dapet mangsa. Kadang wajahku ini suka susah dikontrol sih.

“Hanan, ya ampun kamu nggak banyak berubah ya?”

“Hehehe, kamu malah tambah cantik, Ka.”

“Eh, duduk dong. Malah berdiri aja, ntar disangka pelayan loh.”

Aku segera duduk di hadapan Dika. Tadinya pengen duduk di sebelahnya, tapi sayang banget. Aku pengen puas mandangin wajah Dika sesorean ini.

“Mau pesen apa, Nan?”

Duh, mesen apa aja jadi deh. Combro sepiring juga ok. Itu juga kalau ada disini.

“Apa aja deh Ka. Kamu mesen apa? Aku sama aja deh.”

“Dasar. Ya udah, aku pesen paket yang ada beef teriyaki ya.”

“Ok. Minumnya kopi aja.”

“As usual.”

Menit-menit berikutnya terasa lambat karen Dika sibuk memesan. Ugh…ini pelayan kok lama amat sih bertengger disini? Minggat sana kenapa? Deket-deket sama Dikaku lagi. Minta disundut rokok juga nih. Aku mengeluarkan bungkus rokok dan mengambil sebatang. Berjaga-jaga, kalau-kalau butuh gerakan cepat untuk menyundut siapa saja yang sok-sok pengen deket sama Dika.

Setelah Dika selesai memesan, aku malah bingung harus ngomong apa. Habis, terpesona banget sama Dika. Otakku mendadak membeku. Untung nggak ada yang iseng nuangin air panas ke kepalaku.

“Nan, kok bengong aja sih?!” tegur Dika tersenyum geli.

“Habis bingung mau ngomong apa. Kamu tambah cantik sih.”

Cadas banget sih omonganku barusan!

“Dasar kamu ya. Nanya apa kek. Biasanya bawel kalau lagi chatting.”

“Kan chatting beda sama ketemu langsung, Ka. S2 kamu udah selesai?”

“Udah dari setengah tahun yang lalu. Sekarang aku lagi ngambil S3.”

“Loh, mau jadi dosen?”

“Nggak deh. Kayaknya aku mau jadi peneliti universitas aja. Udah ada tawaran sih dari universitas aku sekarang. Mungkin bakalan kuambil.”

“Berarti nggak bakalan balik lagi ke Indonesia dong?”

“Balik sekali-kali aja, Nan. Disini aku nggak bakalan berkembang.”

Oh…

“Terus mau ngapain aja nih selama disini?”

“Mau maen-maen, mau jalan-jalan. Kangen juga udah lama nggak main disini. Temen-temen udah pada sibuk kerja ya, yang cewek pada nikah. Sibuk masing-masing.”

“Ya udah, aku temenin deh. Aku bebas kok.”

“Emang kamu nggak kerja?”

“Kantor bisa ditinggal kok. Lagian ada Mira yang bisa disuruh ngurusin kantor bentar.”

Gampanglah nyogok Mira supaya mau ngurus kantor. Nanti kubeliin snack yang banyak.

“Mira masih nggak mau kerja di industri ya?”

“Hah dia mah boro-boro. Sekarang malah nyambi juga kerja di tempat penitipan anak.”

“Dia emang cocok main sama anak-anak sih.”

Pesanan kami kemudian datang, dan pembicaraan terhenti sebentar karena si pelayan yang tadi mau kusundut rokok sekarang sibuk menata meja dengan hidangan-hidangan kami.

“Selamat makan,” ucap Dika ceria.

Duh, tewas…

Sepertinya Tuhan berbaik hati padaku. Akhirnya aku diberi kesempatan mengantar Dika pulang. Selama perjalanan kami ngobrol banyak hal. Mulai dari pekerjaanku disini, kabar temen-temen segengku, sampai kuliahnya Dika disana. Padahal, setiap chatting itu-itu juga yang dibahas. Tapi, emang berbeda ya kalau ngobrol sambil tatap muka. Semuanya jadi terasa lebih spesial. Dan tadi aku juga tahu kalau Dika sampai sekarang masih single. SINGLE!!!

Mudah-mudahan nasib baik berpihak padaku…


Penanda Kisah

November 2009
M T W T F S S
« Nov    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Kisah Sebelumnya